DPP PKB Belum Terima Surat Gugatan Alwi dan Saifullah

DPP PKB Belum Terima Surat Gugatan Alwi dan Saifullah

- detikNews
Kamis, 31 Mar 2005 17:19 WIB
Jakarta - Sekjen PKB Muhaimin Iskandar menegaskan, hingga saat ini DPP PKB belum menerima surat gugatan dari Alwi Shihab maupun Saifullah Yusuf terkait dengan pemberhentian keduanya dari jabatan ketum dan sekjen PKB.Hal ini disampaikan Muhaimin sebelum rapat dengan DPRD Kalimantan Barat di Gedung MPR/DPR, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis, (31/3/2003)."Sampai sekarang DPP belum menerima surat dan katanya mau ada mobilisasi tanda tangan untuk mendukung gugatan tersebut, ternyata hal ini juga tidak ada. Malah DPP mendapat laporan dari pimpinan cabang di Papua yang mengatakan dipaksa untuk mendukung tanda tangan itu. Tapi kemudian ditolak oleh cabang Papua," papar Muhaimin.Sementara itu, terkait dengan sikap tidak terima Alwi dan Saifullah atas pemberhentian itu, Muhaimin mengatakan, sebetulnya Alwi sendiri yang memimpin rapat pleno yang memutuskan bahwa setiap pengurus yang masuk kabinet harus bersedia dinonaktifkan."Dan, kenyataannya Pak Alwi dan Pak Saifullah masuk dalam kabinet, sehingga keputusan tersebut diberlakukan terhadap dua orang tersebut," katanya. Sebenarnya, lanjut Muhaimin, ada dua opsi yang ditawarkan DPP PKB, yakni pengunduran diri dan dengan menggunakan SK. "Pak Alwi dan Pak Saifullah memilih SK supaya dia tidak dianggap melarikan diri dari tanggung jawab partai," ungkapnya.Saat ditanya mengenai tujuan gugatan tersebut, dia mengatakan, hal itu merupakan manuver untuk persiapan memasuki muktamar karena kedua orang tersebut tidak bisa lagi masuk ke kepengurusan cabang."Bahkan, ada juga tuduhan kepada DPP PKB yang mengatakan, DPP PKB melakukan pembekuan terhadap beberapa pimpinan cabang di daerah karena memberikan dukungan kepada Pak Syaifullah. Namun hal ini tidak benar," kata Muhaimin.Yang sebenarnya terjadi, tambah dia, adalah kasus-kasus pembekuan pimpinan cabang yang lama untuk diangkat kembali sehingga dianggap sebagai kasus pada saat ini. "Jadi ada semacam dibolak-balik. Kalau begini kan namanya sudah intrik menjelang muktamar," tandas dia. (umi/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads