Keluarga Korban Granat Boker Minta Tanggung Jawab Polisi
Kamis, 31 Mar 2005 16:48 WIB
Jakarta - Suami Sri Supanti, korban ledakan granat di lokalisasi Boker, Ciracas, Jakarta Timur akan meminta pertanggungjawaban polisi. Ledakan itu dinilai bukan musibah biasa tapi merupakan kelalaian polisi memberikan pengamanan."Saya mau meminta pertanggungjawaban Polsek karena bencana ini bukan musibah biasa. Polisi seharusnya memberikan pengamanan," kata Nana, suami Sri kepada wartawan di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jl. Diponegoro, Jakarta, Kamis (31/3/2005). Nana yang berprofesi sebagai pedagang sangat kesulitan membayar biaya pengobatan istrinya. Dengan mata berkaca-kaca, Nana mengaku kaget biaya operasi untuk mengeluarkan serpihan granat dari perut istrinya menghabiskan Rp 5.685.000. Tak hanya itu, setiap hari dia harus mengeluarkan Rp 300 ribu untuk menebus obat."Saya menginginkan keringanan biaya dari RS. Tapi tak diberi," kata Nana dengan mata menerawang. Laki-laki itu kemudian menolak memberi keterangan lebih lanjut karena masih tertekan. "Saya masih tertekan nanti saja ya," katanya pelan.Sri Supanti menderita luka di kuping kiri dan perut. Sri, Rabu (30/3/2005) kemarin menjalani operasi untuk mengeluarkan serpihan di perutnya di ruang UGD. Kini Sri sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Sementara itu korban granat yang dirawat di RS Pasar Rebo kini tinggal dua orang. Mereka yakni Yuyun dan Nur Aini. Yuyun mengalami luka sobek di paha kiri dan telapak tangan kiri. Kedua bagian tubuh itu sudah menjalani operasi, namun satu lagi luka di lengan kiri baru akan dioperasi 2-3 hari lagi. Sedangkan Nur Aini mengalami luka di pelipis kiri belum jadi dipindahkan ke RSCM untuk penanganan lebih lanjut. Pemindahan ke RSCM membutuhkan persetujuan keluarga, namun Nur menolak menghubungi keluarganya.
(iy/)











































