"Saya tidak menutup-nutupi. Di situ (padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi) ada TNI yang menjadi santri, menjadi korban. Ada letkol, ada kolonel, ada mayor. Tidak hanya TNI saja, di situ juga ada Polri," kata Mayjen TNI I Made Sukadana.
Hal tersebut disampaikannya di sela acara Cangkrukan Kodam V/Brawijaya dengan insan pers di halaman rumah dinas Pangdam Brawijaya, Jalan Raya Darmo No 100, Surabaya, Jumat (30/9/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan anggota kita saja (Kodam V/Brawijaya), tapi ada dari TNI dan Polri di berbagai daerah di Indonesia," tuturnya.
Pangdam Brawijaya Mayjen TNI I Made Sukadana |
Pada akhir Agustus lalu anggota TNI yang menjadi korban disebut keluar sebagai pengikut Dimas Kanjeng. Karena menurut Made, uang yang dijanjikan akan dilipatgandakan tidak juga terbukti.
"Janjinya akan dilipatgandakan, tapi sampai akhir Agustus tidak dilipatgandakan sesuai janjinya. Orang di situ hanya disuruh berdoa saja," ujarnya.
Made juga sudah mendapatkan laporan dari Kapolda Jatim bahwa Dimas Kanjeng Taat Pribadi terlibat kasus pembunuhan. Ia lalu segera memerintahkan agar anggota TNI yang menjadi korban untuk segera meninggalkan padepokan. Dengan begitu penangkapan Dimas Kanjeng oleh pihak kepolisian dapat berjalan lancar dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Ditarik dari situ agar tidak menjadi penghalang bagi kepolisian untuk melakukan tindakan hukum," terang Made.
Ketika ditanya ada pecatan atau pensiunan TNI yang terlibat di dalam kasus pembunuhan, Pangdam Brawijaya mengaku tidak tahu. Made pun menyerahkan ke kepolisian untuk melakukan proses hukum.
"Ada pecatan atau purnawiran TNI saya tidak tahu persis. Data itu ada di kepolisian," ucap dia.
"Kalaupun ada anggota TNI yang terlibat, pasti ditangani POM (polisi militer)," tandas Made. (elz/elz)












































Pangdam Brawijaya Mayjen TNI I Made Sukadana