"Pengikut Dimas Kanjeng yang dikoordinir suami saya banyak, sekitar 3.600 orang. Selain di Situbondo, ada juga orang Bondowoso, bahkan Bali dan Kalimantan. Di bawah suami saya ada sub-sub koordinator," kata istri Ismail, Bibi Resemjan (41), saat ditemui di rukonya, di Desa Wringinanom, Kecamatan Panarukan, Situbondo, Jawa Timur, Jumat (30/9/2016).
Sebagai koordinator besar, Ismail pernah menerima beberapa benda pusaka dari Dimas Kanjeng. Baik berupa keris, cincin, dan benda pusaka lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan sekarang, karena saya harus bongkar-bongkar dulu. Sewaktu-waktu pasti saya tunjukkan," elak Neng.
Selain benda-benda pusaka, Ismail juga pernah beberapa kali menerima uang dari Dimas Kanjeng. Mulai dari Rp 300 ribu, Rp 500 ribu, bahkan Rp 1 juta dan Rp 2 juta.
Tapi uangnya tidak pernah sampai ke tangan istrinya, karena selalu dibagikan kepada pengikut Dimas Kanjeng yang tinggal di padepokan.
"Uangnya dibagikan kepada pengikut yang tinggal di padepokan. Karena mereka kan juga butuh makan, butuh rokok, dan sebagainya," tutur Neng.
Kembali ke soal pengikut Dimas Kanjeng, Neng menyebut tidak semua orang tertarik bergabung karena ajakan suaminya. Mereka yang tertarik dicatat Ismail sebagai santri jika telah memberikan uang sebagai 'mahar'. Meskipun nilainya hanya puluhan ribu rupiah saja.
"Suami saya begitu, kasih mahar Rp 10 ribu saja sudah dicatat sebagai santri. Tidak harus puluhan juta," ujar Neng.
Karena banyaknya jumlah pengikut, uang mahar yang dikoordinir Ismail Hidayah disebut-sebut mencapai angka Rp 40 miliar. Dari uang mahar itu, para pengikut berharap akan mendapatkan uang berlipat ganda dari hasil penarikan benda-benda gaib.
"Jadi tidak ada istilah penggandaan uang, yang ada penarikan benda-benda gaib. Benda-benda gaib itu akan dijualkan kepada kolektor dan uangnya akan diserahkan kepada para santri. Hasil penjualan ini yang dijanjikan berlipat-lipat dari uang mahar," terang Neng. (fdn/fdn)











































