Grace Melia Kristanto, seorang ibu 2 anak dan blogger, yang masa mudanya dulu berperilaku seperti Karin Novilda yang familiar dengan nama Awkarin, mencoba berbagi sebagai orangtua. Grace menuliskan pengalamannya saat muda dalam blognya gracemelia.com dengan judul "Catatan untuk Para Orangtua: Dulu Saya Pernah Menjadi Karin Novilda".
Foto: dok pribadi Grace Melia via gracemelia.com |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebut saja merokok, berkata kasar, gaya pacaran. Tapi, kalau memang orangtua merasa bisa membangun kedekatan dan keterbukaan dengan anak remaja mereka, biasanya orangtua tersebut akan lebih tenang menyikapi fenomena Awkarin dan Anya ini," tutur Grace dalam wawancara tertulis dengan detikcom pada Kamis (29/9/2016).
Baca juga: Mengapa Konten Medsos Negatif dari Awkarin dan Anya Geraldine Bisa Muncul?
Apakah para seleb medsos muda yang mengunggah konten negatif bisa menjadi idola anak muda itu karena tidak ada sosok teladan dalam hidupnya?
"Saya bingung juga deh kalau jawab yang ini. Mungkin karena kita-kita ini gampang banget mengidolakan seseorang kali yah. Dan coba deh kita realistis juga, saat kita remaja, yang kita idolakan pasti kebanyakan anak-anak yang gaul kan? Bukan yang pintar dan alim apalagi yang pendiam dan nerd," jelas Grace.
Dalam wawancara dengan detikcom, Grace menegaskan bukan psikolog dan tidak bermaksud menggurui. Grace hanya ingin berbagi pengalaman saat muda dulu yang pernah berperilaku sebagai Karin serta alasannya, yakni memiliki hubungan kurang harmonis dengan sang ibunda. Grace kini menjadi seorang ibu yang mesti mendidik anak-anaknya.
Untuk mencegah konten negatif ditiru para anak dan remaja, Grace mengajak orangtua berdiskusi dengan anak tentang batasan-batasan, mana yang baik dan tidak, mana yang penting dan tidak, mana yang benar dan yang tidak.
Grace Melia (Foto: dok pribadi Grace Melia via gracemelia.com) |
"Mengajak anak menyadari batasan-batasan ini tentu juga bukan dengan cara serta-merta melarang tanpa memberikan penjelasan apalagi sambil marah-marah. Generasi sekarang nggak bisa hanya dilarang tanpa diberikan penjelasan yang logis. Orangtua harus memposisikan diri menjadi remaja. Dan memang, kita nggak bisa pungkiri, sekarang adalah era digital. Hampir semua anak punya smart phone dan gampang mengakses apa saja," imbaunya.
Jadi, lanjut Grace, menurut diskusinya dengan beberapa temannya yang juga menjadi orangtua, yang bisa dilakukan menghadapi konten negatif yang bertebaran ini adalah:
1. Ajak anak-anak duduk bersama
2. Jelaskan kenapa ini itu baik atau tidak
3. Jelaskan juga bahwa lumrah sebetulnya kalau penasaran ingin membuka suatu konten, tapi jangan lantas keterusan/kecanduan
4. Batasi diri
5. Ingatkan anak bahwa cap gaul di mata teman-teman bukan segalanya.
"Jadilah sahabat anak-anak kalian. Karena menjadi orangtua tidak cukup hanya dengan membiayai dan membesarkan. Anak-anak perlu guidance, perlu teman, perlu role model, dan mereka perlu rasa aman untuk bercerita apa saja tanpa langsung dimarahi atau dihakimi," imbau dia.
Menjadikan anak sebagai sahabat itu juga berarti mendengarkan cerita dan curahan hati anak dan memposisikan diri sebagai teman. Kalau ada yang orangtua kurang suka, jangan langsung marah, ngomel atau menghukum, karena pasti anak akan jadi kapok untuk jujur lagi ke depannya.
"Alih-alih, memuji atau memberi apresiasi kejujuran anak pada kita. Say thank you karena anak mau terbuka pada kita dan bahwa keterbukaan mereka sangat berarti untuk kita. Dan nyatakan bahwa mama dan papa akan selalu ada untuk kamu, apapun masalah kamu, apapun pergumulan hati kamu, apapun pilihan kamu, karena kita adalah keluarga," paparnya.
Baca juga: Pesan Ibu yang Dulu Seperti Awkarin: Gaul Keren Tak Ada Faedahnya Saat Jadi Ibu
Sesekali, lanjut Grace, tidak ada salahnya orangtua yang gantian curhat ke anak. Untuk memberi kesan pada anak bahwa komunikasi dan curhatnya adalah dua arah.
"Kalau memang dulu orangtua juga pernah punya pengalaman masa-masa pemberontak, boleh juga di-share pada anak, untuk gaining their trust, untuk menunjukkan pada anak bahwa orangtua juga bukan pihak yang selalu benar, namun jangan lupa tekankan pelajaran atau hikmah yang kita ambil dari pengalaman kita. Kelak, jika anak-anak saya sudah remaja, saya tidak akan menutupi masa lalu saya. Saya tidak akan berbohong dengan mengatakan bahwa saya selalu jadi anak baik, karena memang realitanya tidak seperti itu. Saya akan jujur, cerita ringan, dan semoga anak-anak saya bisa mengambil pelajaran," jelasnya.
Membangun komunikasi dengan anak itu bisa melalui gadget atau telepon. Namun, jangan lupa sediakan waktu tiap minggu untuk berbicara tatap muka dengan anak.
"Komunikasi via chat atau telepon juga tidak masalah kok. Sekadar tanya kabar, mengingatkan sudah makan belum, dan lain-lain. Kuncinya kan di membangun kedekatan, bukan di media apa kita harus dekat. Tapi tentu baik jika paling tidak seminggu 1-2x kita bisa bertatap muka dan membangun quality time dengan anak," tuturnya.
Halaman 2 dari 3












































Foto: dok pribadi Grace Melia via gracemelia.com
Grace Melia (Foto: dok pribadi Grace Melia via gracemelia.com)