Sutik merupakan salah satu dari ribuan orang yang diduga menjadi korban akal-akalan Dimas Kanjeng. Para pengikut ini percaya Dimas Kanjeng bisa mendatangkan uang. Beberapa pengikut bahkan mengaku melihat langsung aksi Dimas Kanjeng mendatangkan uang.
Tanpa ragu-ragu, mereka menyetorkan mahar yang nilainya fantastis hingga mencapai puluhan miliar rupiah. Mahar-mahar yang disetor itu dijanjikan Dimas Kanjeng bisa dilipatgandakan dengan melakukan ritual khusus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut jeritan hati pengikut Dimas Kanjeng:
Sutik dan Risal Malu Pulang
|
Foto: Imam Wahyudiyanta/detikcom
|
Sebagian mengaku kehabisan uang dan bekal untuk hidup sehari-hari. Mereka berharap keluarganya mengirim uang untuk pulang kampung.
Sutik, warga Madiun mengaku hampir setahun nyantri di padepokan Dimas Kanjeng dan memberikan mahar Rp 10 juta. Uang itu untuk pemekaran padepokan milik Dimas Kanjeng yang dianggap maha guru. Namun masih belum kunjung ada pembagian cairan uang dari yayasan, sehingga uang simpanan di rumahnya sudah habis.
"Sudah setahun ini saya bergabung bersama padepokan Dimas Kanjeng dengan memberi mahar Rp 10 juta. Tapi kalau pulang saya malu ke keluarga istri saya, karena tidak membawa uang ghaib yang tidak kunjung ada," jelas Sutik, saat ditemui di bilik tendanya, Minggu (25/9/2016).
Hal senada disampaikan pengikut Dimas Kanjeng asal Lampung, Risal. Dia memilih bertahan hidup di tenda padepokan sambil menunggu kiriman uang dari kerabatnya. Dia mengaku sudah 3 bulan nyantri tanpa ada kejelasan nasibnya.
"Saya sudah tiga bulan nyantri di padepokan bersama 7 teman saya yang juga berasal dari Lampung. Sebetulnya ingin pulang, tapi masih menunggu kiriminan uang dari kerabat saya," kata Risal.
Sementara pihak Kecamatan Gading, terus memantau dan mendata para santri padepokan dan terus memberi arahan agar segera pulang. Jika tetap nekat bertahan, maka nasibnya di padepokan kian tidak menentu.
"Saya tanyakan kenapa tidak pulang, mereka mengaku masih ingin nyantri, padahal kita tidak tahu mereka makan dari mana sehari-harinya. Tapi ada juga yang mengaku menunggu pencairan dari padepokan dulu," kata Camat Gading Selamet Hariyanto di lokasi padepokan.
Mahar Rp 25 Miliar Tak Kembali
|
Foto: M Rofiq
|
"Ada 2 laporan oleh Warga Jember dan Warga Bondowoso," kata Kabag Penum Polri Kombes Martinus Sitompul di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (29/9/2016).
"Laporan pertama kerugian Rp 830 juta, sedangkan laporan penipuan kedua kerugian Rp 1,5 miliar dengan terlapor saudara Taat Pribadi," sambungnya.
Martinus menambahkan, korban menyerahkan mahar dalam bentuk uang dan dijanjikan oleh Dimas Kanjeng dengan waktu tertentu akan bertambah dan uang mahar kembali utuh. "Kedua korban menyerahkan mahar secara bertahap sejak tahun 2011 dan sampai sekarang belum ada yang dikembalikan," ujarnya.
Direktur Tipidum Bareskrim Polri Brigjen Agus Adrianto sebelumnya mengatakan total kerugian para pengikut diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
"(Kerugiannya) banyak. Rata-rata korban menyetor per paketnya itu Rp 20 juta. Untuk aliran dananya masih ditelusuri sambil kita koordinasi dengan Polda Jawa Timur," ujar Direktur Tipidum Bareskrim Polri Brigjen Agus Adrianto kepada detikcom, Senin (26/9/2016) malam.
Agus mengatakan, kerugian para korban bervariasi dari puluhan juta hingga miliaran rupiah. "Untuk korban yang melapor ke kami itu kerugiannya Rp 25 miliar," sambung Agus.
Tidak Ada Perjanjian Tertulis
|
Foto: Ilustrator Mindra Purnomo
|
"Karena saya di sini mau nyantri, ya saya ikhlaskan saja uang yang saya keluarkan. Katanya untuk pembangunan pemekaran padepokan, masjid dan sebagai mahar," ujar Agung, yang mengaku pensiunan dari BUMN, saat berbincang dengan wartawan, Jumat (23/9/2016).
Untuk uang mahar, lanjut Agung, nantinya akan dikembalikan melebihi dari uang semula yang ia berikan. Dengan catatan, dia harus sabar menunggu gudang uang gaib keluar.
Hal senada juga dikatakan Achmad (65), asal Palembang. Selama 2 bulan bergabung manjadi santri padepokan, dirinya sudah mengeluarkan uang lumayan banyak mencapai Rp 32 juta.
Namun ia tetap setia menjadi santri padepokan, meski pemimpin padepokan diamankan polisi dengan dugaan mengotaki pembunuhan terhadap bekas santrinya.
"Tidak ada perjanjian tertulis, saya percaya pada maha guru Taat Pribadi," ujar Acmad.
Mengenai mahar yang telah disetorkan, dia mengaku bagian dari amal untuk padepokan. "Saya tidak menuntut uang itu kembali," tuturnya.
Janji Setor Uang Pagi, Kembali Sore
|
Foto: Aditya Fajar Indrawan/detikcom
|
SP yang ditemui detikcom di salah satu Warkop di Makassar, Selasa (27/9/2016), mengaku diajak oleh pimpinan padepokan bernama Ibrahim untuk aktif di kegiatan sosial keagamaan pimpinan Dimas Kanjeng. SP mengaku dimintai mahar sebanyak Rp 50 juta untuk bergabung di majelis dzikir pimpinan Dimas Kanjeng. SP dijanjikan dana yang akan disetorkan akan dilipatgandakan sebanyak 3 kali dari uang yang disetorkan.
"Saya pernah diajak jalan-jalan ke Padepokan Kanjeng di Probolinggo bersama sekitar 43 orang pengikut lainnya dari Makassar, saya melihat langsung Kanjeng menghambur-hamburkan uang dari belakangnya usai melakukan zikir berjamaah atau disebut istighosah, sepulang dari sana kami diberi uang saku per orang Rp 1 juta per orangnya," tutur SP.
Usai menyetor mahar Rp 50 juta, pada bulan Februari 2013 lalu SP menyetor lagi sebanyak Rp 50 juta, sesuai permintaan Ibrahim. Ia juga diminta Ibrahim untuk mendata Panti Asuhan, orang-orang miskin untuk disantuni bila dana yang dijanjikan Kanjeng Pribadi telah cair.
"Kami diberi air untuk dipakai mandi tengah malam dan dijanjikan akan ada pencairan dari Kanjeng Pribadi. Kami diiming-imingi, setor pagi, kembali sore. Beberapa teman kami malah menggadai mobilnya, setelah ditunggu-tunggu ternyata yang dijanjikan nihil," tambah SP.
SP mengaku telah berhasil menarik kembali uangnya di Padepokan setelah mendesak Ibrahim untuk mengembalikan uangnya sekitar Rp 120 juta.
Menurut SP, para anggota padepokan yang berjumlah sekitar 2.000 orang yang tersebar di beberapa daerah di Sulawesi Selatan, seperti di Soppeng, Bulukumba dan Makassar ini malu untuk melaporkan kasus penipuan yang dialaminya. Selain itu pula, mereka masih berharap adanya pencairan dana yang dijanjikan oleh Kanjeng Mas.
SP juga menyebutkan Dimas Kanjeng pernah berkunjung ke Makassar sekitar tahun 2013 dengan difasilitasi Marwah Daud dan suaminya. Dimas Kanjeng menggelar pertemuan dengan para pengikutnya di salah satu aula kampus Universitas Negeri Makassar.
Halaman 2 dari 5











































