Pengikut Dimas Kanjeng Membela, Tak Percaya Junjungannya Terlibat Pembunuhan

Pengikut Dimas Kanjeng Membela, Tak Percaya Junjungannya Terlibat Pembunuhan

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Kamis, 29 Sep 2016 22:24 WIB
Pengikut Dimas Kanjeng Membela, Tak Percaya Junjungannya Terlibat Pembunuhan
Muslih Berkacamata (Foto: Imam Wahyudiyanta/detikcom)
Probolinggo - Para pengikut Dimas Kanjeng tetap mempercayai pimpinannya tak bersalah. Mereka tetap meyakini apa yang disangkakan polisi adalah rekayasa saja. Mereka juga mengeluhkan media yang lebih banyak mengutip dari pihak kepolisian.

"Kami tak diberi ruang untuk membela yang mulia (sebutan untuk Dimas Kanjeng)," ujar salah satu pengikut, Muslih, kepada detikcom di Padepokan Kanjeng Dimas di Dusun Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo, Kamis (29/9/2016).

Untuk kasus pembunuhan yang dilakukan Dimas Kanjeng, Muslih hanya mengatakan bahwa dua orang korban yakni Abdul Ghani dan Ismail Hidayah adalah pengkhianat. Namun untuk siapa pembunuhnya, Muslih hanya mengatakan tidak tahu. "Menurut rumor mereka adalah pengkhianat. Mereka membawa lari uang padepokan, uang mahar pengikut tak disetor. Bisa saja yang membunuh adalah pengikut yang uangnya dibawa lari. Yang mulia sering mengatakan kalau nyamuk saja nggak boleh dibunuh, apalagi ini manusia," kata Muslih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muslih yang mewakili para pengikut lain itu juga mengatakan bahwa tak ada penggandaan uang di padepokan. Yang ada hanyalah pengeluaran uang."Uang dikeluarkan dari bagian belakang yang mulia. Itu adalah mutlak ilmu yang mulia. Yang keluar tidak hanya uang rupiah, tapi uang negara lain juga ada. Uang kuno juga ada. Apa yang diambil dari belakang itulah yang ada," lanjut Muslih.

Muslih mengecam MUI yang seakan-akan mengatakan bahwa ajaran Dimas Kanjeng adalah sesat terutama terkait ujaran Dimas Kanjeng adalah Tuhan dan salawat fulus. Muslih mengaku belum pernah mendengar Dimas Kanjeng mengatakan bahwa ia Tuhan. Dan untuk salawat fulus, itu adalah salawat yang sama yang menurutnya juga diajarkan di sebuah ponpes di Trenggalek.

Bahkan Muslih menyamakan salawat fulus dengan salawat nariyah dan munjiat yang biasa dilafalkan oleh kalangan NU. "Kalau salawat fulus sesat, salawat nariyah dan munjiat juga sesat. Salawat itu kan meminta sesuatu. Kalau salawat fulus meminta baju, harta, makanan, dan uang sementara salawat nariyah dan munjiat meminta keselamatan dari huru hara. Intinya salawat itu memohon atau meminta sesuatu," terang Muslih.

Muslih hanya tertawa saat dikonfirmasi apakah Dimas Kanjeng mempunyai empat istri. Muslih menyangkalnya dengan mengatakan bahwa Dimas Kanjeng hanya mempunyai satu istri yakni Rahmah Hidayati yang biasa dipanggil Nyi Ajeng. "Yang mulia ini memang sudah tak kumpul dengan istrinya selama sembilan tahun. Bukan apa-apa, itu untuk ilmunya, untuk mengekang hawa nafsu," bela Muslih.

Apapun alasan para pengikutnya, yang pasti Dimas Kanjeng saat ini masih berada dalam tahanan polisi dengan status tersangka pembunuhan. Para pelaku telah mengakui keterlibatan Dimas Kanjeng. Untuk penggandaan uang, sudah ada dua korban yang melapor ke Polda Jatim dan kasusnya tengah diproses. Istri kedua dan dan istri ketiga Dimas Kanjeng juga sudah diketahui, dan mereka mengakuinya. (iwd/Hbb)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads