Ahli Hipnoterapi Bicara Soal Serba 'Kebetulan' Jessica di Persidangan

Ahli Hipnoterapi Bicara Soal Serba 'Kebetulan' Jessica di Persidangan

Mei Amelia R - detikNews
Kamis, 29 Sep 2016 19:54 WIB
Ahli Hipnoterapi Bicara Soal Serba Kebetulan Jessica di Persidangan
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Ahli hipnoterapi Kirdi Putra bicara soal serba 'kebetulan' Jessica Kumala Wongso saat diperiksa dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Rabu (28/9) kemarin.

"Kebetulan-kebetulan yang ditampilkan Jessica tersebut memang bukan serta merta menentukan bahwa Jessica bersalah atau tidak bersalah, akan tetapi tentu saja bisa menjadi salah satu petunjuk," jelas Kirdi kepada wartawan di Jakarta, Kamis (29/9/2016).

Kirdi yang juga merupakan praktisi mikro ekspresi mengamati selama persidangan, banyak pola-pola kebetulan yang ditampilkan oleh Jessica. Dari awal sampai persidangan terakhir, pada Rabu (28/9), Kirdi melihat banyk pola 'kebetulan' yang ditampilkan Jessica.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Beberapa 'kebetulan' tersebut misalnya, kebetulan Jessica yang memilih tempat di Cafe Olivier, kebetulan Jessica pesan minum dan langsung membayar duluan, kebetulan celana Jessica sobek dan dibuang, kebetulan tas-tas ditaruh di atas meja, kebetulan keluar dari group WA setelah Mirna meninggal, dll," terang Kirdi.

Kirdi juga menyoroti ekspresi Jessica yang berubah, termasuk penampilan Jessica yang menggunakan kacamata saat memberikan keterangannya di persidangan, kemarin.

"Ada juga pola-pola lainnya yang ditampilkan semasa penyidikan sampai persidangan, ekspresi yang ditampilkan Jessica relatif terlihat datar, tetapi di beberapa titik, justru menampilkan adegan-adegan yang sifatnya emosional yang 'kebetulan' ditampilkan di televisi," ungkapnya.

"Lalu penggunaan kacamata yang dipakai ketika memberikan keterangan, yang 'kebetulan' hampir tidak pernah dipakai sebelum-sebelumnya," sambungnya.

Serba 'kebetulan' itu, menurutnya memang tidak bisa serta merta menentukan bersalah atau tidaknya Jessica dalam kasus tersebut. Tetapi, menurutnya, serba kebetulan yang terjadi dalam waktu yang bersamaan itu menimbulkan pertanyaan besar.

"Berbagai kebetulan yang berdiri sendiri-sendiri, mungkin tidak ada artinya, semua orang mengalami kebetulan, tetapi kebetulan-kebetulan yang terkumpul sebagai satu kesatuan, tidak bisa tidak, membuat kita bertanya-tanya, bagaimana bisa sejumlah besar 'kebetulan' terjadi dalam waktu yang bersamaan?

Ia tidak memungkiri, tidak ada sebuah metode atau perangkat apapun yang 100 persen bisa menentukan seseorang bersalah atau tidak. Begitu juga dengan pola-pola bahasa tubuh tidak bisa menjustifikasi seseorang bersalah atau tidak, jika hanya berdiri sendiri-sendiri.

"Bahasa tubuh, cara bicara, ekspresi, semua dilihat dari kongruensi (keselarasan) pola yang ditampilkan oleh seseorang, yang bisa digunakan untuk mengobservasi kebetulan-kebetulan dan ketidakselarasan antar pola-pola yang ada, termasuk konten keterangan yang diberikan Jessica di hadapan pengadilan," tutur analis perilaku dan komunikasi tersebut.

Jessica dalam persidangan pada Rabu kemarin menyangkal dakwaan pembunuhan terhadap Wayan Mirna Salihin. Jessica mengatakan dia sampai saat ini juga mempertanyakan mengapa Mirna sampai meninggal.

"Saya mengerti itu, dan saya mempertanyakan hal yang sama. Selain Mirna menggeletak setelah meminum kopi, saya tidak bisa mengatakan hal lain, saya tidak tahu yang mulia," kata Jessica.

Hakim Partahi sempat bertanya kepada Jessica, bagaimana perasaannya dengan kematian Mirna ini. Jessica mengaku sedih, bingung, dan kehilangan. Jessica juga meyakini bahwa Mirna meninggal tak wajar.

"Saya tidak tahu kenapa Mirna itu meninggal yang mulia. Sampai sekarang saya belum bisa menerima. Tidak wajar, karena Mirna masih sangat muda seperti saya, Mirna masih sehat-sehat saja waktu itu, masih cipika-cipiki sama saya, tapi lalu dia meninggal," tutur Jessica. (mei/fjp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads