Hasil Otopsi Pembunuhan Berantai oleh Polisi Dikirim ke Jakarta
Kamis, 31 Mar 2005 14:53 WIB
Pekanbaru -
Kasus pembunuhan berantai yang dilakukan seorang perwira Polda Jambi hingga kini motifnya masih kabur. Sementara, Polda Riau terkesan menutupi keterlibatan perwira yang telah mencemarkan nama baik korps polisi di Indonesia itu.Sejumlah wartawan di Pekanbaru belum bisa memperoleh keterangan yang akurat tentang peristiwa pembunuhan sadis yang telah menelan 7 korban jiwa itu. Namun hingga kini, dapat dipastikan, pelaku pembunuhan berantai yaitu Iptu Gribaldi yang menjabat Kepala Urusan Informasi Kriminal Telematika Polda Jambi, masih dalam tahanan Polda Riau.Kabid Humas Polda Riau AKBP Amien Rachimsyah kepada detikcom hanya memberikan komentar bahwa hasil otopsi mayat Numarta Lily (32) mantan istri tersangka yang dibongkar kuburannya di di Desa Kemang, Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan Riau, kini hasilnya sudah dikirim ke Laboratorium Mabes Polri."Kita baru saja mengirim hasil otopsi mayat Nurmarta ke Lab Mabes Polri. Dari tubuh mayat itu, tim penyidik menemukan 5 peluru yang bersarang di kepala dan empat peluru bersarang di bagian dadanya," kata Amien.Namun sejauh ini, pihak Polda Riau belum dapat memastikan apa sebenarnya motif pembunuhan sadis yang dilakukan perwira Polda Jambi itu. Polda Riau juga belum bersedia berkomentar soal ancaman hukuman yang akan dikenakan kepada Gribaldi."Yang jelas kasus ini masih dalam penyelidikan kita dan tersangka masih berstatus tahanan Polda Riau," kata Amien singkat tanpa bersedia lebih rinci menjelaskan kronologi kejadian tersebut. "Sudahlah, baru itu yang saya tahu. Saya baru pulang dari Aceh jadi kurang mengikuti perkembangannya," tambahnya.Sekadar diketahui, aksi pembunuhan Gribaldi ini sudah dimulai sejak tahun 1999 hingga akhir 2004. Lamanya tenggat waktu terbongkarnya kasus ini menjadi pertanyaan besar masyarakat terutama keluarga korban. Masyarakat mencurigai pihak kepolisian sengaja menutupi sejak awal kasus pembuhan berantai tersebut. Kecurigaan warga paling tidak memiliki dasar yang kuat. Dari sekian lama pembunuhan itu, baru tahun 2005 pihak polisi berhasil membongkarnya.Adapun daftar korban sesuai dengan pengakuan tersangka baru tujuh nyawa yang dia bunuh secara sadis dengan cara ditembak dengan pistolnya. Ketujuh korban itu adalah Rusdin Sidauruk (41) asal Medan, Sumatera Utara dan Muhammad Ali (34) asal Jambi, Listy Kartika (30), Gusmarni (31), Ngadimin (50), dan Yeni Farida (27). Sedangkan Numarta Lily yang merupakan mantan istri ketiganya itu dikabarnya korban terakhirnya yang dibunuh di Kabupaten Pelalawan-Riau.
(nrl/)










































