perubahan komposisi tim sukses. Salah satu dampaknya ialah politisi Partai Golkar, Nusron Wahid yang mengundurkan diri dari posisi ketua tim pemenangan Ahok-Djarot.
Ketua DPP Partai Nasdem, Martin Manurung mengaku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia bahkan mempersilakan PDIP untuk
memimpin atas dasar perolehan kursi terbesar di DPRD.
"Jadi kita nggak ada urusan dengan tim pemenangan. Silakan saja kalau memang PDIP sebagai partai terbesar untuk memimpin,
kita percayakan kepada PDIP. Nasdem tidak akan mempersoalkan satu titik juga. Yang penting Ahok menang," ujar Martin di DPP Nasdem di Jl. RP Soeroso, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (28/9/2016).
Ia menambahkan bahwa Nasdem tidak mempersoalkan perubahan komposisi dalam tim pemenangan. Bahkan Martin mendorong agar
PDIP bisa menggerakkan seluruh struktur partainya untuk memenangkan Ahok-Djarot.
Setelah Nusron mengundurkan diri, dikabarkan 4 partai pendukung yaitu PDIP, Golkar, Nasdem dan Hanura akan melakukan pembahasan komposisi timses. Namun, pertemuan tersebut tertunda karena tiap partai masih menyusun tim internal untuk masuk
ke dalam timses gabungan.
Martin mengatakan bahwa baru ada satu kesepakatan yang dicapai yaitu menempatkan Djarot sebagai commander in chief. Sebagai kader PDIP, Djarot memiliki pengalaman Jokowi-Ahok di Pilgub DKI 2012.
"Yang jelas, kita sepakati adalah, dengan bergabungnya PDIP, maka Pak Djarot sebagai calon wakil gubernur menjadi chief in command. Tapi siapa yang akan melaksanakan sehari-hari, mungkin terserah Pak Ahok dan Pak Djarot," ujar Martin.
Ia menegaskan kalau Nasdem tidak memberikan syarat apapun terhadap dukungan pemenangan Ahok-Djarot.
"Jadi Nasdem tidak ada keberatan, tidak ada persyaratan, tidak ada konsen apapun yang bisa membuat tim pemenangan ini jadi
tidak solid. Jadi kami mendukung saja," katanya. (erd/erd)











































