Kejadian bermula saat Dedi yang juga menjabat sebagai Ketua DPD I Golkar Jabar baru melantik ketua dan pengurus DPD II Golkar Kabupaten Purwakarta di Desa Cileunca, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, Selasa (27/9/2016) sore.
Usai pelantikan secara tiba-tiba seorang anak berumur tanggung berlari menghampiri Dedi sambil menarik tangannya. "Pak bupati ngiring heula ka bumi. Dulur saya can pernah sakola. Teu meunangeun ku bapakna. (Pak bupati ikut saya dulu ke rumah. Saudara saya belum pernah sekolah. Tidak boleh sama bapaknya)," ujar sang anak yang diketahui bernama Iman itu.
Bupati Dedi Mulyadi bujuk orang tua yang larang anaknya sekolah. |
Mendengar hal itu Dedi pun langsung menuju rumah yang dituju di RT 3 RW 9, Desa Cileunca, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, untuk mengkonfirmasi perkataan Iman. Di tengah perjalanan, Dedi pun memanggil kepala desa setempat untuk mengetahui duduk permasalahan sebenarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesampainya di lokasi, Dedi beserta rombongan pun bertemu dengan Herman paman dari Iman yang melarang anaknya bernama Angga Suherman untuk bersekolah. Dari awal pertemuan itu, Dedi dibuat kebingungan karena Herman meracau tak karuan.
Bupati Dedi Mulyadi bujuk orang tua yang larang anaknya sekolah. |
Bahkan dia menyebut Dedi sebagai adiknya yang telah lama tidak bertemu. Dia mengaku terpisah dengan Dedi saat dulu dipisahkan orang tua. Iman ditinggal di Cileunca untuk mengayomi keluarganya, sementara Dedi dititipkan pada seseorang di Keresidenan sehingga menjadi kepala daerah.
"Dangukeun heula. Lainna embung nyakolakeun budak. Tapi pas itu make motor, izasah budak leungit. Jadi pernah sakola. Tah sakola teh kudu aya izasah. (Dengarkan dulu. Bukannya tidak mau menyekolahkan anak. Tapi waktu itu pake motor, ijazah anak hilang. Jadi pernah sekolah. Nah sekolah itu harus ada ijazah)," ucap Herman yang membuat Dedi dan rombongan kebingungan.
Setelah terlibat pemcicaraan yang alot, Dedi pun mengancam akan kembali membawa Herman ke RSJ Cisarua jika terus melarang Angga bersekolah. Namun lagi-lagi Herman meracau soal ijazah anaknya yang hilang sehingga tidak bisa sekolah.
Perlahan tapi pasti, Dedi terus berkomunikasi dengan Herman yang meracau. Hingga secara tiba-tiba Herman pun mulai bisa diajak berbicara normal dan mulai tertegun dengan pandangan yang kosong. Di saat itu pula Dedi langsung menepuk punggung Herman. Tak diduga Herman tiba-tiba berkaca-kaca, dan mengangguk tanda memperbolehkan Angga bersekolah.
"Sok iyeu inum heula caina. (Ini minum dulu airnya)," kata Dedi sambil memberikan sebotol air mineral pada Herman.
Tak berselang lama, Dedi menyuruh Kades untuk mencari seorang guru terdekat dari rumah Angga. Guru tersebut langsung ditunjuk Dedi untuk menjadi guru 'home schooling' bagi Angga sambil menunggu kondisi Herman 100% mengizinkan anaknya pergi ke sekolah.
"Sok Bu Guru iyeu bantos murangkalih umurna salapan tahun tapi can bisa maca jeung ngitung, da can sakola. Syukur-syukur engke tiasa dicandak ka sakola. Khusus Bu Guru, ku saya dipasihan gaji di luar sakola Rp 1,5 juta perbulan. (Bu Guru ini bantu anak umurnya sembilan tahun tapi belum bisa baca dan menghitung, karena belum sekolah. Syukur-syukur nanti bisa dibawa ke sekolah. Khusus Bu Guru, saya kasih gaji di luar sekolah Rp 1,5 juta perbulan)," jelas Dedi.
Bupati Dedi Mulyadi bujuk orang tua yang larang anaknya sekolah. |
Sebelum beranjak pulang, Dedi pun memberikan sejumlah uang pada Herman dan Angga untuk dibelikan peralatan dan seragam sekolah. Selain itu sebagai terapi mental, Dedi memberikan Herman tiga ekor domba betina dan satu ekor domba jantan untuk dipelihara.
"Isukan ku saya dianteuran domba. Ameh teu cicing wae di imah. Jeung engke budak beres sakola milu bapak ngingu domba. Sakalian ngajarkeun budak ameh kreatif jeung produktif. (Besok saya antarkan domba. Biar tidak diam terus di rumah. Dan nanti anak pulang sekolah ikut bapak mengembala domba. Sekalian mengajarkan anak biar kreatif dan produktif," pungkas pria yang akrab disapa Kang Dedi itu.
Dari informasi yang dihimpun detikcom, Herman mengalami gangguan jiwa sejak ditinggal istrinya yang bernama Ida beberapa tahun lalu. Ida meninggalkan Herman dan dua orang anaknya untuk menjadi TKW ke Timur Tengah. Namun karena di Purwakarta ada larangan warganya menjadi TKW, Ida pun pergi ke Timur Tengah melalui Surabaya dengan menggunakan dokumen umrah. (jor/jor)












































Bupati Dedi Mulyadi bujuk orang tua yang larang anaknya sekolah.
Bupati Dedi Mulyadi bujuk orang tua yang larang anaknya sekolah.
Bupati Dedi Mulyadi bujuk orang tua yang larang anaknya sekolah.