Mereka yang Mbalelo di Pilgub DKI: Boy Sadikin Hingga Ruhut Sitompul

Panasnya Pilgub DKI

Mereka yang Mbalelo di Pilgub DKI: Boy Sadikin Hingga Ruhut Sitompul

Indah Mutiara Kami - detikNews
Selasa, 27 Sep 2016 08:29 WIB
Mereka yang Mbalelo di Pilgub DKI: Boy Sadikin Hingga Ruhut Sitompul
Foto: Ilustrator Luthfy Syahban
Jakarta - Parpol-parpol sudah menentukan jagonya masing-masing di Pilgub DKI 2017 dan 3 pasangan calon telah didaftarkan ke KPUD. Hanya saja, ada kader-kader yang lantang bersuara menolak pilihan partainya dan memilih pasangan lawan.

Di antaranya adalah Ketua DPP Partai Demokrat, Ruhut Sitompul. Di saat partainya mengusung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni untuk Pilgub DKI 2017, Ruhut justru mendukung Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat yang diusung PDIP cs.

Ruhut tak takut bila dipecat oleh Partai Demokrat. Langkah yang sama juga diambil oleh politikus Partai Demokrat lainnya yaitu Hayono Isman. Anggota Dewan Pembina PD mengaku dukungannya diberikan secara pribadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, ada Boy Sadikin yang ogah mendukung jago dari partainya yaitu PDIP. Daripada memberikan suara untuk Ahok-Djarot, putra Ali Sadikin ini memilih mundur dari Ketua DPD PDIP DKI sekaligus hengkang dari partai tersebut.

Penolakan terhadap Ahok-Djarot juga datang dari internal Golkar. Bahkan, politikus Golkar Sirajuddin Abdul Wahab membentuk Agus Fans Club untuk mendukung Agus-Sylvi yang diusung Partai Demokrat. Atas suaranya ini, Sirajuddin siap diusir dari partai beringin.

Seberapa besar pengaruh para kader yang mbalelo dari arahan parpol di Pilgub DKI? Berikut kisahnya seperti dirangkum detikcom, Selasa (27/9/2016):

1. Ruhut Sitompul

Foto: Lamhot Aritonang
merasa pilihannya selalu benar.

Misal saat dia mendukung calon presiden Jokowi, akhirnya betul Jokowi yang menang di Pilpres 2014. Kini dia mendukung Ahok dan meyakini Ahok bakal menang di Pilgub DKI 2017. Bila dipecat, maka publik akan membuktikan siapa yang punya pilihan jitu.

"Biar rakyat yang menilai, yang salah aku atau mereka," kata Ruhut saat berbincang, Jumat (23/9/2016).

Anggota Komisi III DPR ini sebelumnya sudah dicopot dari jabatan koordinator juru bicara Partai Demokrat. Kini, Ruhut pun siap bila dipecat oleh partai yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.

"Aku sudah buktikan. Ini juga kalau kira-kira gimana (tidak nyaman -red) lihat aku, kan enggak susah, pecat saja aku," ucapnya.

Menurut Ruhut, langkah Partai Demokrat dan Koalisi Cikeas untuk mengusung Agus Yudhoyono sangat disayangkan. Tak seharusnya, kata Ruhut, Agus diusung menjadi cagub penantang Ahok sekarang. Apalagi Agus adalah tentara yang harus setia pada negara. Akan lebih baik bila Agus sukses di TNI terlebih dahulu.

"Walaupun kadang-kadang aku takut kalau dia enggak menang, kasihan. Umurnya masih kepala tiga, tahunya harus pensiun, ngeri sekali. Aku sayang sama SBY. Tapi dia berhak memutuskan dan aku hormati keputusan itu," kata Ruhut.

2. Hayono Isman

Foto: Rengga Sancaya
Selain Ruhut, ada pula anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman yang mendeklarasikan dukungan kepada Ahok-Djarot. Hayono menjabarkan program-program Pemprov DKI yang membuatnya jatuh hati kepada Ahok. Di antaranya adalah pasukan oranye yang digaji di atas UMR dan ketegasan memberantas korupsi di DKI.

"Saya hadir sebagai pribadi bukan sebagai Dewan Pembina Demokrat, bukan sebagai Ketum Kosgoro. Saya hadir sebagai pribadi. Kosgoro bebas memilih siapa pun yang mau dipilih," kata Hayono dalam konferensi pers di Jakarta Theatre di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9/2016). Konferensi pers ini difasilitasi oleh relawan Muda-Mudi Ahok.

Menurutnya, Ahok bekerja dengan memberikan pelayanan baik dan dianggap berpeluang memberantas korupsi. Tidak hanya itu, Ahok dianggap menghargai birokrasi di Jakarta.

"Tidak pernah masa lalu saya dengar tukang bersih-bersih dapat honor tinggi, tidak pernah dengar lurah dapat honor Rp 30 juta, tidak pernah dengar wali kota Rp 70 juta," sebutnya.

Hayono tak menjawab tegas apakah dirinya akan mundur dari PD. Jawaban bernada sama juga diberikan koleganya di PD, Ruhut Sitompul, yang juga mendukung Ahok. Ruhut malah menantang PD untuk memecat dirinya. Apakah Hayono tidak takut dipecat?

"Saya akan minta diberi kesempatan untuk bertanya apa alasannya," jawab Hayono.

3. Boy Sadikin

Foto: Hasan Alhabshy
Setelah PDIP mendaftarkan duet Ahok-Djarot ke KPU DKI, eks Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Boy Sadikin langsung hengkang. Ia mengirimkan surat pengunduran diri sebagai kader PDIP.

"Saya mengundurkan diri dari keanggotaan PDIP," kata Boy saat dihubungi, Kamis (20/9/2016).

Boy pun mengutarakan alasannya. Ia kecewa dengan keputusan PDIP mengusung Ahok-Djarot ke Pilgub DKI.

"Salah satunya terkait perbedaan pandangan dalam Pilkada DKI Jakarta," katanya.

Hengkang dari PDIP, Boy Sadikin merapat ke gerbong Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Berawal dari salat Jumat bersama sebelum pendaftaran ke KPU, Boy lalu ditunjuk menjadi tim pemenangan.

Setelah mendaftar ke KPU pada Jumat (23/9), Anies-Sandi lalu menemui Boy Sadikin di kediaman ayahnya, Ali Sadikin yang merupakan mantan Gubernur Jakarta. Boy Sadikin sendiri yang pindah gerbong mengaku tak akan mengajak-ajak kader PDIP lain untuk mengikuti langkahnya.

"Saya nggak bawa gerbong, saya sudah beda dari mereka (PDIP). Silakan saja kalau dukung siapa pun, pikir matang-matang, pilih dengan hati nurani," imbuh Boy.

4. Sirajuddin Abdul Wahab

Foto: Lamhot Aritonang
Di saat kader Golkar ramai-ramai mensukseskan Ahok-Djarot, pilihan berbeda diambil oleh Sirajuddin Abdul Wahab. Politikus Golkar ini justru banting stir dan membentuk kelompok pendukung Agus-Sylvi yang diusung oleh Partai Demokrat, PKB, PPP, dan PAN.

"Ini perbincangan anak muda yang tidak hanya berbicara hari ini. Jadi kita juga mempersiapkan potret ke depannya. Kalau misalnya kita lihat usia 38 tahun Mas Agus, artinya dia kan bisa berproses secara politik 25 tahun ke depan," ujar Sirajuddin di kafe MidTown, Jl. Tulodong Atas No. 28, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (26/9/2016).

"Jadi kita melihat itu dan salah satu sosok yang kita potret itu Mas Agus. Jadi berangkat dari spirit itulah Mas Agus maju sebagai calon gubernur, maka kami membentuk Agus Fans Club ini," tambahnya.

Sirajuddin mengatakan bahwa ia memiliki hak politik. Dan langkah yang diambilnya ialah untuk memilih yang terbaik. Meski begitu, ia mengaku masih menjadi kader Golkar karena belum menyatakan pengunduran diri.

"Saya masih aktif (sebagai kader Golkar). Sebelum saya mengundurkan diri artinya saya masih kader Golkar. KTA saya masih ada," kata Sirajuddin.

Ia mengaku bahwa di dalam internal Partai Golkar bukan hanya dirinya saja yang tidak sejalan dengan sikap dukungan partainya. Sirajuddin menyebut ada 100 orang kader yang ikut bersamanya untuk gabung bersama AFC.

"Banyak lebih dari 100 (yang ikut). Sudah lah, nanti bisa dikroscek yang lainnya di tingkat DPD. Ada juga yg diam diam. Saya punya hak politik. Saya sebagai warga DKI ya harus memilih yang terbaik," ucap Sirajuddin.

Bagaimana bila dipecat oleh partai? "Enggak masalah (dipecat). Konsekuensi sebuah pilihan itu harus kita terima dan saya menentukan sebuah pilihan melihat bagaimana yang harus dihadapi," ujarnya.

Halaman 2 dari 5
(imk/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads