Para pedagang yang mayoritas berlogat khas Madura dan Jawa itu saling bersahutan 'berebut' bicara di hadapan Anas. Mulai dari keresahan terhadap rentenir, pembagian kios pasar hingga ungkapan rasa senang bertemu langsung bupati.
Ada satu saran khusus yang memancing gelak tawa Anas dan seluruh pedagang yang terlibat dialog di Pendopo Sabha Swagata Blambangan. Adalah Misniati, ibu paruh baya yang mengajarkan Anas cara menghitung hari baik untuk memulai pembangunan Pasar Induk Blambangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini apa masih lama pembangunannya? Kalau dihitung itu, hari baiknya Senin Pahing atau Sabtu Pahing. Itu penting Pak untuk pembangunan pasar, supaya lancar. Tolong itu benar-benar diperhatikan Pak Bupati," tutur Misniati ketika berdilaog dengan Anas di pendopo, Senin (26/9/2016) malam.
Sambil tersenyum, Anas menyimak saran Misniati. Bagi Anas, saran 'menghitung' hari baik perlu dipertimbangkan di antara sederet saran yang ditawarkan para pedagang.
"Iya bu, nanti kita pikirkan itu sambil mencari jalan tengah. Tapi masa nanti kita mau lelang pekerjaan juga harus menunggu hari baik juga bu? Kan repot ini jadinya," timpal Anas tertawa yang lantas membuat riuh para pedagang yang hadir.
Tak hanya Misniati, salah satu pedagang pasar lainnya Abdus Salam juga mengutarakan kegelisahannya ketika para pedagang pasar dililit oleh manisnya iming-iming rentenir dan tengkulak.
Karena keterbatasan modal, para pedagang menurut Abdus mau tak mau memilih meminjam uang pada rentenir.
"Rentenir itu Pak, merajalela. Tapi ya gimana, kita masih terbatas," ujarnya.
Pembangunan Pasar Blambangan rencananya dilakukan dengan merombak lebih dulu kawasan pasar di sisi utara dan selatan. Ada sekitar 1.500 lapak dan kios yang disiapkan dengan desain yang ditawarkan kepada para pedagang pasar.
Desain yang dipaparkan di depan ratusan pedagang pun boleh ditolak jika mereka merasa tak cocok. Hingga akhir tahun 2016 mendatang, para pedagang juga diminta saling berunding untuk menata lapak dan menentukan jumlah lantai bangunan pasar tersebut.
"Kami tadi itu sosialisasi sambil menawarkan design. Gambar itupun boleh di tolak karena ini hanya konsep. Saya minta mereka saling menata sendiri, berapa lantai itu akan dibangun, lapak basah dimana, kering dimana. Biar pedagang sendiri yang menata. Karena ini untuk rakyat juga," ujar Anas. (fdn/fdn)











































