Meski usia sudah 11 tahun, namun Amat tak minder duduk di kelas 1 SD. (Baca juga: Cerita Tentang Semangat Belajar Amat yang 11 Tahun Hidup di Bajaj).
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami terenyuh juga. Kita tidak boleh diam, dia (Amat) harus diselamatkan. Dia punya hak untuk tetap sekolah," tambah Sariya.
![]() |
Dia berharap Amat mendapatkan seluruh haknya sebagai warga. Seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP). "KJP belum jadi semua, karena kan ada syarat yang ketat. Harusnya yang kondisi ini dipermudah, jangan sampai KJP ini salah sasaran," kata Sariya.
Secara pribadi, Sariya ingin menguatkan mental Amat. Dia yakin di usia yang sudah 11 tahun, Amat sudah mempunyai pola pikir yang lebih maju. "Bagaimana pun ini tanggung jawab kita. Dia ini anak bangsa. Saya memotivasi saja," kata dia.
Amat kini duduk di kelas 1 SDN 05 Pagi Gondangdia, Jakarta. Sejauh ini semua biaya termasuk buku dan SPP Amat tak perlu mengeluarkan biaya alias gratis. "Kalau di sini kan semua gratis. SPP dan buku dicukupi oleh sekolah. Harapannya ya ada bantuan dan perhatian dari dinas pendidikan," kata Sariya.
Meski tinggal di Bajaj, semangat belajar Amat tak putus. Di sela waktu sang ayah Riwahyudin mencari nafkah, dia belajar di atas Bajaj kadang di trotoar di pinggir Stasiun Cikini, Jakarta Pusat.
Setiap hari Bajaj Riwahyudin memang mangkal di Stasiun Cikini.
(erd/erd)












































