"Si budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Menjelang maghrib hujan tak reda
Si budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal,".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, 31 tahun kemudian kisah serupa Budi seperti lagu 'Sore Tugu Pancoran' masih bisa ditemui. Adalah si Muhammad Irwan (11 tahun) alias Amat yang memiliki kisah mirip Budi. Hampir selama 11 tahun Amat tinggal di atas Bajaj karena tak punya rumah untuk tinggal menetap.
![]() |
Meski hidup di atas Bajaj, semangat belajar Amat tak putus. Riwahyudin (54) sang ayah, menyekolahkan Amat di SDN 05 Pagi Gondangdia, Jakarta Pusat. Amat yang sudah berusia 11 tahun namun masih duduk di kelas 1 itu awalnya merasa minder. Tapi kini sudah mulai bisa bergaul dengan teman-temannya di kelas 1.
Elly, Wali Kelas 1 SDN 05 Pagi Gondangdia bercerita saat awal-awal Amat masuk sekolah. Amat baru didaftarkan ke kelas 1 sepekan setelah waktu sekolah dimulai.
Awalnya murid-murid kelas 1 agak bingung karena Amat sudah berusia 11 tahun. Amat juga sempat merasa minder. Dia akan menjadi murid paling besar di kelasnya. "Tapi saya bilang ke anak-anak lain, ajak dia main seperti yang lain. Ya sekarang sih udah mulai berbaur.Kecanggungan pasti ada. Tapi tidak terlalu, sudah bercanda dengan lain," kata Elly saat berbincang dengan detikcom di SDN 05 Pagi Gondangdia, jalan Probolinggo, Jakarta Pusat Senin (26/9/2016).
"Kemauan dia (Amat) sekolah ada. Itu yang penting. Saya ingin kasih ruang dia, saya ingin jadikan ketua kelas di akhir september nanti," kata Elly.
Elly dan guru-guru di SDN 05 Pagi Gondangdia tak tahu bahwa selama ini Amat tinggal dan tidur di atas Bajaj. Sementara menurut Riwahyudin sang ayah, Amat selama ini belajar di atas Bajaj. Namun jika tak ikut narik Bajaj, Amat belajar di atas trotoar di samping Stasiun Cikini tempat Wahyudin mangkal selama ini.
(erd/try)












































