"Saya berharap Jakarta, saya minta semua pihak untuk menjadi barometer untuk pemilu yang demokratis di Indonesia. Kalau Jakarta ini demokratis maka otomatis menjadi etalase bagi (daerah) yang lain," kata Tito di Rupatama Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (23/9/2015).
Oleh karena itu, Tito mendorong semua pihak dan stakeholder mulai dari KPU, Panwaslu, para pasangan calon, aparat keamanan, media dan masyarakat untuk mendorong dan mendukung demokrasi yang betul-betul sehat di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak perlu juga ada isu-isu yang black campaign seperti masalah suku, agama, ras dan lainnya. Kita semua sama. Kita adalah masyarakat yang berdemokrasi dan egaliter," ujarnya.
"Siapapun memiliki kesempatan yang sama sebagai WNI untuk mengajukan dirinya. Tolong masalah isu-isu yang sensitif enggak usah diangkat. Lebih baik lihat calon berdasarkan kinerjanya," sambungnya.
Selain itu, Tito menuturkan, Aceh termasuk relatif rawan dalam pilkada serentak nanti. Untuk pengamanan, Tito mengatakan, pihaknya sudah bekerjasama dengan instansi terkait seperti KPU, Panwaslu, TNI dan instansi lain.
"Di sana (Aceh) cukup banyak paslon dan daerah itu adalah daerah yang ada konflik, potensi konflik otomatis kita akan memberikan pengamanan ekstra di sana," urainya. (idh/hri)











































