DetikNews
Kamis 22 September 2016, 10:14 WIB

Anyonghaseo (29)

Saat TKI 'Membelanjakan' Hartanya

M Aji Surya* - detikNews
Saat TKI Membelanjakan Hartanya Foto: M Aji Surya/detikcom
Seoul - Anyonghaseo. Kosa kata bersedekah bukan hanya milik orang gedongan. Banyak orang pinggiran juga melakukan sedekah. TKI di Korea, sedekahnya "setinggi gunung".

Medio September 2016 ini terdapat sebuah pemandangan yang cukup unik. Setelah seorang dai asal Jakarta, Derry Sulaiman, berkutbah di hadapan 3.000-an jamaah TKI di Korea, berlarian sekitar 30 TKI naik panggung. Rupanya mereka sedang mengamini seruan ustaz Derry untuk berderma.

Jangan kaget, separuh di antara yang naik panggung itu siap menyisihkan 1 juta won atau kisaran Rp 10 juta dari gajinya setiap bulan untuk kepentingan umat seperti membangun masjid. Separuh lainnya, siap menggelontorkan 500 ribu won per bulan. Hitung saja berapa banyak mereka berderma.

Wajah anak-anak TKI di Korea yang di atas panggung itu tampak ikhlas dan berbinar. Mereka pikir, satu juta won adalah soal kecil. Hanya kisaran seperduapuluhlima pendapatan bulanan mereka. Yang artinya tidak akan menggoyang periuk nasi bulanan mereka.

Foto: M Aji Surya/detikcomFoto: M Aji Surya/detikcom

Jangan kaget. Kejadian di atas bukanlah yang paling spektakuler. Kabarnya, dalam sebuah pengajian akbar tahun lalu, saat seorang ustaz kondang manggung, sekali sabet mampu mengumpulkan uang lebih dari Rp 5 miliar yang kemudian dijadikan modal untuk membangun masjid Indonesia disana.

Kumpul mengumpul uang seperti ini sudah menjadi hal yang jamak bagi anak-anak TKI di Korea. Tidak heran juga saat ini terdapat setidaknya 4 masjid yang dibeli oleh anak-anak TKI dimaksud. Yang terakhir di kota Gumhei, satu lantai bangunan dibeli dengan nilai Rp 8 miliar untuk dijadikan masjid. Wow.

Jujur, saya sendiri masih menduga-duga, apa motivasi dari sedekah yang begitu membuncah. Apakah karena keimanan yang sangat tinggi, ingin dilihat teman-temannya, atau malah hanya terbawa arus belaka. Sulit mengukurnya. Maklumlah, tidak sedikit TKI di akhir kontraknya tidak mau pulang karena khawatir miskin dan kemudian lebih suka menjadi illegal.

Foto: M Aji Surya/detikcomFoto: M Aji Surya/detikcom

Yang jelas, dengan pendapatan bulanan kisaran 2.500 dolar AS, mendermakan uang seribu dolar per bulan memang dianggap cemen alais uang receh. Lihat saja, sebagian dari TKI tersebut bisa menghamburkan uang banyak di dalam ruang karaoke untuk sekedar menyanyi bersama seorang lady singer. Anak muda memang memerlukan pengakuan atas eksistensinya.

Konon pernah, dalam sebuah pesta dangdut di Korea, ada yang mabuk sambil nyawer tanpa batas. Begitu habis uang, lari ke ATM lalu nyawer lagi. Begitu seterusnya yang pada akhirnya ludeslah uang di bank. Ia baru sadar kelakuannya saat is terbangun dari "tidurnya".

Saya sebenarnya hanya ingin mengatakan bahwa 37 ribu TKI di Korea ini merupakan kelompok masyarakat yang boleh dibilang "gemuk" dan "empuk". Gemuk karena uangnya dalam ukuran mereka sangat banyak. Dan empuk karena mudah tergoda membelanjakan isi kantongnya untuk apa saja.

Foto: M Aji Surya/detikcomFoto: M Aji Surya/detikcom

Ya, pada galibnya mereka adalah kelompok yang rentan. Mudah terpengaruh oleh hal-hal yang membuat mereka merasa eksis. Mudah berderma, main di karaoke hingga mengonsumsi gadget paling anyar. Mereka juga suka lupa bahwa ada saatnya kontrak kerja mereka habis dan harus pulang kampung.

Kesempatan emas inilah yang harus jadi perhatian bersama untuk menyiapkan para TKI Korea tersebut menjadi majikan saat pulang kampung nanti. Pekerjaan pemberdayaan tersebut harus terpola, terstruktur, terencana dan bukan sekedar dijadikan proyek abal-abal.
(try/try)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed