Serunya Saat Warga Australia Mengenal dan Belajar Membatik

Serunya Saat Warga Australia Mengenal dan Belajar Membatik

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Kamis, 22 Sep 2016 06:01 WIB
Serunya Saat Warga Australia Mengenal dan Belajar Membatik
Foto: Dok KBRI Canberra
Canberra - Indonesia punya banyak warisan budaya yang negara lain tidak miliki. Salah satu warisan budaya itu adalah batik.

Batik telah diakui oleh UNESCO sejak tahun 2009 sebagai budaya tak benda warisan manusia. Untuk itu, KBRI Canberra secara khusus kembali memperkenalkan batik ke masyarakat Australia melalui pagelaran batik bertajuk 'The Magnificent Patterns of Indonesian Batik'.

Pagelaran ini berlangsung di Balai Kartini yang digagas oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Canberra melalui program 'Indonesian Cultural Circle'. Beberapa jenis batik pun ditampilkan dalam pagelaran ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mulai dari Aceh, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara hingga Papua. Berbeda dengan pameran Batik sebelumnya, kali ini yang difokuskan adalah tentang corak atau pola-pola Batik di Indonesia yang dikenal sangat kaya motif," kata Kepala Pensosbud KBRI Canberra Iwan Freddy Hari Susanto dalam rilis yang diterima detikcom, Rabu (21/9/2016).

"Pameran batik ini bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan corak batik di Indonesia di kalangan publik Australia. Mengingat Indonesia sangat luas secara geografis dan juga kaya dari aspek budaya, tak heran jika batik Indonesia menjadi kaya akan ragam motif," lanjutnya.

Ketua DWP KBRI Canberra Nino Riphat, istri Dubes Nadjib Riphat memberi pidato (Dok KBRI Canberra)Ketua DWP KBRI Canberra Nino Riphat, istri Dubes Nadjib Riphat memberi pidato (Dok KBRI Canberra)


Menurut Ketua DWP KBRI Canberra Nino Riphat, semakin mengenali batik Indonesia dari berbagai daerah, akan semakin banyak wawasan yang dimiliki. "Warna batik memiliki simbol-simbol filosofis yang banyak dipengaruhi oleh faktor sosial-budaya, agama, pandangan hidup masyarakat setempat serta alam sekitarnya," ucap Iwan Freddy.

Dalam pagelaran ini hadir dosen, seniman, pebisnis, hingga istri diplomat, serta Anna Posser mantan Presiden Women's International Club (WIC). Mereka juga diberikan penjelasan mengenai makna pola-pola dalam batik sendiri serta diberikan kesempatan belajar batik sendiri.

"Kapan dikenakan, seperti batik Truntum, batik Parang, batik Cemukiram, batik Papua, batik Kalimantan dan sebagainya yang memiliki nilai artistik dan estetika yang sangat tinggi," tuturnya.

Sementara itu menurut salah satu pengunjung pagelaran Lila Concance, pagelaran batik ini menjadi yang paling menarik selama beberapa kali digelar.

"Pameran Batik kali ini merupakan program ICC yang paling menarik yang pernah saya hadiri selama beberapa tahun terakhir ini," tutur Lila Concance.

Asyiknya saat warga Australia membatik (Dok KBRI Canberra)Asyiknya saat warga Australia membatik (Dok KBRI Canberra)


Ellen Kirkland salah satu warga Australia lainnya mengatakan bahwa dengan terjun langsung dalam pembuatan batik, ia jadi mengetahui betapa sulitnya membatik. Ia pun mengakui rata-rata batik Indonesia sangat indah.

"Pameran dan demonstrasi membuat batik di KBRI Canberra ini sangat luar biasa karena peserta dapat merasakan langsung betapa sulitnya membuat batik dengan kualitas tinggi. Beragam jenis batik yang dipamerkan diakuinya rata-rata sangat indah," ungkap Ellen Kirkland. (yds/rjo)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads