detikNews
Rabu 21 September 2016, 17:41 WIB

Mengenal Makna Ritual Budaya dan Spritual di Kampung Pitu Gunungkidul

Sukma Indah Permana - detikNews
Mengenal Makna Ritual Budaya dan Spritual di Kampung Pitu Gunungkidul Foto: sukma indah
Yogyakarta - Tak hanya tentang jumlah 7 kepala keluarga yang dipertahankan oleh warga Kampung Pitu selama ratusan tahun. Berbagai ritual budaya dan spiritual tetap dilestarikan hingga saat ini.

Berbagai kegiatan warga Kampung Pitu seolah tak lepas dari nilai hidup yang sakral. Mulai dari panen hingga membangun atau memperbaiki rumah dilakukan dengan gotong royong dan dibarengi dengan upacara adat.

Salah seorang warga Kampung Pitu, Sugito (45) menceritakan, ada beberapa upacara adat utama di kampungnya. Beberapa di antaranya Tingalan, Tayub/Ledek, Rasulan, Ngabekten, Mong-mong Pedet, dan Mong-mong Motor.

Tingalan dalam Bahasa Jawa artinya peringatan hari ulang tahun di dalam budaya warga Kampung Pitu tidak sembarangan. Hanya tokoh sesepuh kampung saja yang boleh melaksanakannya.

"Setiap tanggal lahir dengan tanggalan Jawa, atau disebut neton dalam bahasa Jawa," kata Sugito kepada detikcom.

Hal ini disampaikan Sugito di rumahnya di Kampung Pitu, Pedukuhan Nglaggeran Wetan, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (20/9/2016).

Sedangkan tayub merupakan kesenian tarian yang ditampilkan warga setahun sekali di acara Rasulan. Pementasan Tayub digelar di dekat Tlogo atau telaga di Kampung Pitu.

Ada empat tembang atau lagu Jawa yang harus dinyanyikan yaitu Blendrong, Ijo-ijo, Eleng-eleng, dan Sri Slamet.

"Empat lagu itu bentuk ucapan syukur karena hasil panen yang melimpah," imbuhnya.

Tentang Rasulan, warga Kampung Pitu percaya akan datang bala bencana jika tradisi ini tidak dijalankan. Upacara adat ini berupa doa bersama seluruh warga disertai membuat sesaji yang kemudian dibagikan sebagai bentuk sedekah dari warga Kampung Pitu kepada kerabat, keluarga dan tetangga.

"Kalau Ngabekten adalah prosesi kenduri saat selesai menaikkan kayu paling atas rumah (saat membangun rumah)," tutur Sugito.

Tata cara upacara adat Ngabekten diawali dengan memanjatkan doa bersama yang kemudian dilanjutkan dengan penyiraman kayu suwunan (kayu paling atas dari rangka rumah) dengan bunga setaman.

"Setelah selesai ritual kayu suwunan akan dinaikkan bersama warga masyarakat yang datang dan dilanjutkan dengan Ngabekten," jelasnya.

Selain itu, terdapat ritual Mong-mong Pedet yang digelar setiap kelahiran hewan ternak seperti sapi, kerbau dan kambing. Tak hanya hewan ternak, warga Kampung Pitu juga menggelar ritual adat saat membeli kendaraan motor.

"Ritual ini namanya Mong-mong Motor. Menjadi bentuk syukur terhadap segala bentuk yang diterima warga Kampung Pitu," kata Sugito.
(sip/dra)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com