Menguak Gedong Songo yang Bertebaran di Lereng Ungaran, Adakah Pesan Khusus?

Rivki - detikNews
Selasa, 20 Sep 2016 20:43 WIB
Foto: sidik/detikcom
Jakarta - Gedong Songo bertebaran di lereng Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. candi ini berada di ketinggian di atas 1000 mdpl, dan terpisah di beberapa titik.

Peneliti membaginya dalam lima kelompok, dan yang tertinggi di namanya gedong songo lima. Akhir pekan lalu, detikcom menyambangi kawasan gedong songo ini.

Cuaca sejuk menyergap saat datang. Paling depan komplek gedong songo I. Di tempat awal ini candi tak begitu besar. Pengunjung banyak bersantai di lokasi ini karena yang terdekat.

Sayangnya tidak ada petunjuk khusus mengenai asal muasal candi ini. Hanya saja, candi ini diketahui dibangun sekitar abad ke 7-8 masehi di masa mataram kuno.

Naik agak lebih tinggi ada komplek candi yang kedua. Cukup menanjak menuju ke tempat ini. Dan tak jauh di atasnya ada komplek candi ketiga, selanjutnya keempat, dan yang terakhir kelima. Candi songo atau sembilan candi ini dikatakan demikian karena ada sembilan candi berdiri.

Nah, melihat soal letaknya yang bertebaran di lereng gunung, bagaimana manusia era dahulu mencapai tempat ini? Tentu mudah saja, apalagi memang biasanya lokasi pemujaan di tempat sepi yang disucikan. Candi Songo ini merupakan candi hindu.

"Yang pasti digolongkan candi tua, mirip candi di Dieng," terang arkeolog Ali Akbar.

Menurut dia, candi songo ini dibangun di lereng pegunungan tentu atas sejumlah alasan. Namun patut diduga candi songo ini merupakan candi siwa yang mewakili sifatnya sebagai penguasa gunung.

"Siwa sebagai dewa utama yang dikelilingi atau ditemani oleh dewa-dewa, dalam bentuk candi-candi juga. Dan ketika lokasi lereng Ungaran ini dipilih sebagai komplek candi, maka otomatis akan menjadi wilayah suci," jelas dia.

Dan biasanya, tak sembarang menentukan lokasi suci ini, ada pertimbangan tanah, kondisi angin, kelembapan, daya serap air, dan lainnya.

"Jika mengacu pada kompleks percandian Dieng, lokasi yang menjadi tempat pembuatan candi diduga kuat merupakan lokasi yang sudah digunakan sejak zaman prasejarah atau sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Buddha," tutur dia.

"Di Dieng misalnya oleh peneliti zaman penjajahan Belanda ditemukan pecahan nekara. Nekara merupakan artefak perunggu yang digunakan dalam prosesi ritual. Selain itu, survei yang kami lakukan beberapa waktu terakhir menunjukkan ada indikasi struktur punden berundak. Namun masih dalam proses penelitian," tutup dia. (rvk/dra)