"Sudah ada 23 orang yang dari Indonesia. Itu sudah dua tiga bulan lalu. Saya sudah waspadai," kata Ryamizard di Desa Skow, Jayapura, Papua, Selasa (20/9/2016).
Ryamizard menjelaskan, keberadaan para WNI tersebut saat ini masih terus dilacak. Mereka disinyalir berbaur dengan warga lainnya untuk mengurangi kesan mencurigakan.
"Oh iya semuanya dipantau, masih dilacak. Makannya bela negara itu untuk menangkal itu supaya bangsa ini peka. Kalau dulu satu kali 24 jam harus lapor sekarang kan nggak. Nggak tahu kalau sudah tinggal di sana teroris.," ungkap dia.
Ia menambahkan, pihak Kemenhan bersikap hati-hati dalam menghadapi keberadaan para simpatisan ISIS yang baru pulang tersebut.
"Kami sedang waspadai dulu. Sekarang itu kalau nggak melaksanakan kegiatan susah, nanti orang bisa ribut-ribut. Tapi jangan suka kegiatan yang matiin orang melulu, nggak boleh juga," urainya. (wsn/tfq)











































