Sekilas tak ada yang istimewa, kedai es krim Osiris layaknya kedai-kedai es krim lainnya yang menyasar pasar anak muda. Namun, ketika Anda berkunjung akan dilayani seorang pria paruh baya yang memiliki kebutuhan khusus. Jaka Susila (40) kepada detikcom, bercerita tentang kondisi tangannya yang tumbuh tak seperti orang kebanyakan karena serangan penyakit polio saat dia masih kecil.
Kembali ke kedai es Krim Osiris yang berada di rumahnya, Jaka menjelaskan bahwa usaha ini bagai mimpi yang terwujud bagi dia dan teman-teman difabel lain di desa. Kedai yang baru saja buka selama 3 pekan belakangan ini punya sejarah panjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Sukma Indah P/detikcom |
Sheila (24) yang menjadi satu-satunya dari 4 orang teman dari kelompok itu yang masih tinggal di Yogyakarta dan fokus menggarap Osiris ini mengisahkan, timnya melakukan riset soal kebutuhan atas keterbatasan ekonomi dan sosial para penyandang difabel di Yogyakarta.
"Sebagai mahasiswa kita punya pendidikan dan pengetahuan, ada yang tahu soal komunitas difabel dan bagaimana kondisi sosial ekonomi mereka," ujar Sheila.
Kelompok difabel yang disasar kelompok ini yakni Paguyuban Difabel Bangkit Sidomulyo yang berada di Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul. Sedangkan Jaka merupakan ketua dari paguyuban tersebut.
Di dalam paguyuban ini terdapat 90 penyandang disabilitas. Kebanyakan mereka menjadi difabel akibat penyakit polio dan ada juga yang merupakan korban gempa tahun 2006 lalu.
Kemudian Sheila dan timnya melakukan riset soal potensi yang dimiliki wilayah tersebut.
"Akhirnya kita juga tahu ada kebun buah naga di daerah Pandan Sari. Dari situ, apa yang bisa kita wujudkan. Setelah market research, akhirnya diputuskan kita akan membuat es krim," urainya.
Foto: Sukma Indah P/detikcom |
Segala bentuk prosesnya, kata Sheila, melibatkan paguyuban difabel tersebut. Sebab menurutnya, di dalam proses melahirkan Osiris inilah para penyandang difabel dapat berkarya dan dapat meningkatkan kepercayaan dirinya.
Dari 7 orang, beberapa di antaranya bukan difabel melainkan keluarga difabel. Keluarga difabel dianggap menjadi pihak yang membutuhkan uluran tangan karena mereka memiliki keterbatasan secara sosial dan ekonomi akibat harus mengurus keluarganya yang difabel.
"Kalau yang difabelnya tidak memungkinkan untuk bekerja, yang bergabung adalah keluarganya. Lumayan bisa untuk menambah uang belanja," ujar Jaka.
Foto: Sukma Indah P/detikcom |
Produksi juga masih belum setiap hari, tapi 3 atau 4 hari sekali. Dia berharap es krimnya bisa semakin laris di pasaran sehingga jumlah produksi meningkat.
"Biar bisa lebih banyak teman-teman yang bisa gabung ke Osiris," tutur Jaka. (sip/trw)












































Foto: Sukma Indah P/detikcom
Foto: Sukma Indah P/detikcom
Foto: Sukma Indah P/detikcom