Kasus Dugaan Suap Irman Gusman

Benarkah Irman Gusman Lobi Bulog Soal Penyaluran Gula Impor?

Maikel Jefriando - detikNews
Senin, 19 Sep 2016 11:15 WIB
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Irman Gusman, baru saja ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menerima suap untuk membantu sebuah perusahaan bernama CV SB mendapatkan jatah penyaluran gula impor dari Perum Bulog.

Direktur Pengadaan Bulog, Wahyu, mengakui bahwa CV SB adalah salah satu mitra penyalur yang ditunjuk oleh Bulog untuk mendistribusikan gula impor di Sumatera Barat.

Bulog mendapatkan penugasan dari pemerintah untuk stabilisasi harga gula. Dalam rangka stabilisasi itu, Bulog mengimpor 260.000 ton gula. Untuk mendistribusikannya, Bulog menunjuk 57 distributor di seluruh Indonesia, salah satunya CV SB.

"Bulog melaksanakan penugasan sesuai tugas yang diberikan pemerintah. Untuk penjualan kami pasti menunjuk mitra penyalur atau distributor. Itu untuk menjual di daerah. Jumlahnya ada 57 distributor di seluruh Indonesia. CV SB adalah salah satunya," papar Wahyu dalam konferensi pers di Gedung Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (19/9/2016).

Apakah ada lobi-lobi dari Irman Gusman sehingga CV SB mendapatkan jatah penyaluran? "Itu sudah masuk materi penyidikan, saya tidak akan jawab. KPK yang nanti sampaikan lebih detail," jawab Wahyu.

Dia menambahkan, penunjukan distributor gula impor dilakukan Divisi Regional (Subdivre) Bulog di daerah-daerah. Ada tim yang melakukan verifikasi untuk menunjuk mitra-mitra penyalur.

Tapi penunjukannya tidak melalui proses tender, hanya penilaian saja dari tim. Siapa pun bisa menjadi mitra penyalur Bulog asalkan memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditetapkan.

"Penetapannya oleh Divre masing-masing. Yang verifikasi ada tim dari Divre masing-masing dan dilaporkan ke kantor pusat. Jadi layak atau tidak ada tim di Divre. Tidak ada tender, semua boleh menjadi distributor sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan," papar Wahyu.

Syarat-syarat itu di antaranya memiliki sarana untuk distribusi, jaringan distribusi, dan komitmen untuk menjual gula sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Bulog, yaitu Rp 12.500/kg.

"Salah satu yang penting adalah kemampuan distribusi dan kepemilikan jaringan. Kami sudah verifikasi, termasuk mengenai profil perusahaan, sarana prasarana, dan kemampuan jaringan. Perusahaan itu juga harus berkomitmen menjaga harga sesuai HET yang kami tetapkan," tutupnya.

Irman ditangkap KPK di rumah dinasnya pada Sabtu (17/9) dini hari dan KPK mengamankan uang Rp 100 juta. Uang suap Rp 100 juta yang diterima Irman diduga berkaitan dengan pengurusan kuota impor gula di Provinsi Sumatera Barat. Tersangka pemberi suap adalah pasangan suami istri XSS dan MMI, pemilik CV SB.

Wakil Ketua KPK La Ode Muhammad Syarif mengungkapkan bahwa tersangka pemberi suap, XSS meminta bantuan kepada Irman agar mendapatkan jatah gula impor dari Bulog untuk distribusi Sumatera Barat (Sumbar). Irman, yang duduk di DPD mewakili Sumbar, menelepon Dirut Bulog agar memberikan jatah pada XSS dan MMI. (mkl/nwk)