Keseruan Saren Taun ke 648 di Desa Adat Ciptagelar

Keseruan Saren Taun ke 648 di Desa Adat Ciptagelar

Tri Ispranoto - detikNews
Senin, 19 Sep 2016 00:41 WIB
Keseruan Saren Taun ke 648 di Desa Adat Ciptagelar
Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Kabupaten Sukabumi - Kasepuhan Desa Adat Ciptagelar (Kasepuhan Banten Kidul) di Kaki Gunung Gede Pangrango, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, menggelar acara tahunan Saren Taun atau panen raya ke 648.

Acara yang berlangsung sejak Sabtu 17 September kemarin itu diawali dengan berbagai acara hiburan seperti pertunjukan wayang dan hiburan aneka musik. Puncaknya pada hari ini, Minggu (18/9/2016), digelar upacara adat memasukkan padi hasil panen ke leuit atau gudang warga tradisional khas Sunda.

Foto: Tri Ispranoto/detikcomFoto: Tri Ispranoto/detikcom


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Upacara diawali dengan masuknya seratusan orang tua atau baris kolot yang berjajar membentuk formasi pagar mengelilingi lapangan tempat berlangsungnya acara dengan tabuhan lesung yang dipukul oleh para kaum ibu.

Selanjutnya ratusan orang yang memikul pare atau padi menggunakan tanggungan atau bernama rengkong secara beriringan berjalan mengelilingi lapangan yang telah 'dipagar betis' oleh baris olot.

Foto: Tri Ispranoto/detikcomFoto: Tri Ispranoto/detikcom


Rengkong yang berisi dua ikat padi atau orang lokal menyebutnya pocong itu digoyang-goyang sepanjang jalan hingga menimbulkan bunyi yang khas. Pocong tersebut kemudian diarak keliling kampung hingga menuju leuit-leuit yang tersebar di beberapa titik.

Sebagai penutup Pemimpin Kasepuhan Ciptagelar, Abah Ugi, bersama para tamu yang hadir seperti budayawan Sunda, Kang Dedi Mulyadi, Bupati Lebak (Banten), Iti Octavia Jayabaya, dan beserta tetua adat lainnya berkumpul di Leuit Si Jimat.

Foto: Tri Ispranoto/detikcomFoto: Tri Ispranoto/detikcom


Di tempat itu secara simbolis padi-padi yang dibawa masuk ke dalam leuit sebagai persediaan bahan pangan untuk beberapa bulan bahkan beberapa tahun ke depan. Berbeda dengan leuit lainnya, Si Jimat terletak di paling depan dengan ukuran paling besar serta dihias layaknya bangunan paling spesial.

Ditemui usai acara, Abah Ugi menjelaskan, padi-padi tersebut dipanen setiap setaun sekali dan disimpan di dalam leuit berukuran kecil dan besar yang tersebar di titik-titik desa. Padi tersebut digunakan untuk kebutuhan makan seluruh warga desa selama beberapa tahun ke depan.

"Padi ini digunakan sesuai kebutuhan oleh seluruh warga. Satu tahun panen ini bisa mencukupi dua sampai tiga tahun ke depan walau pun misal warga gagal panen atau tidak menanam padi lagi," tuturnya.

Foto: Tri Ispranoto/detikcomFoto: Tri Ispranoto/detikcom


Dari pantauan detikcom, acara tersebut pun semakin semarak dengan hiburan debus dan kendang pencak. Selain itu partisipasi wisatawan menambah semarak acara, bahkan Kang Dedi yang juga Bupati Purwakarta pun ikut mengarak rengkong dengan bertelanjang kaki meuju sebuah leuit.

Kasepuhan Pasanggrahan sendiri berada di dua wilayah yakni Kabupaten Sukabumi (Jabar) dan Kabupaten Lebak (Banten). Untuk menuju lokasi diperlukan tenaga ekstra. Pasalnya jalan masih berupa bebatuan yang hanya bisa dilalui oleh motor trail atau mobil jenis adventure.

Foto: Tri Ispranoto/detikcomFoto: Tri Ispranoto/detikcom


Untuk menuju tempat ini diperlukan waktu sekira 3-4 jam dari Pelabuhan Ratu, atau 7-8 jam dari pusat kota Sukabumi. Jalan yang masih alami, jalur terjal penuh dengan tanjakan dan turunan yang licin saat diguyur hujan pun menambah berat perjalanan.

Meski demikian, suasana kampung yang asri dan tenang seolah menghipnotis siapa pun yang datang dan membuat lupa jika baru saja melwati jalan yang penuh rintangan tersebut.

Foto: Tri Ispranoto/detikcomFoto: Tri Ispranoto/detikcom
(imk/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads