Herawati dan Jarni duduk di teras hotel 902, Misfalah, Makkah, pada Jumat (16/9) malam, sambil menunggu bus yang akan mengantar ke bandara Jeddah. Walau sebetulnya bisa menunggu di kamar, namun keduanya memilih duduk di teras dengan harapan naik lebih cepat atau setidaknya tak perlu buru-buru dari kamar.
Bagi Herawati, pengalaman berada 40 hari di Tanah Suci adalah sebuah karunia yang luar biasa. Dia merasa Allah SWT memudahkan semua proses ibadahnya, dari awal sampai akhirnya. Padahal, dia juga harus sambil mengurusi sang suami yang sakit stroke sehingga tak bisa beraktivitas banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Pasangan Herawati dan Jarni bercerita soal pengalaman mereka di Tanah Suci (Rachmadin Ismail/detikcom) |
Total Herawati melaksanakan empat kali umrah, lalu menjalani ibadah arbain di Madinah dengan lancar, sempat salat di dekat Hijr Ismail dua kali dan selalu mendapatkan tempat di dekat area kakbah. Lokasi hotelnya juga cukup dekat dengan Masjidil Haram, sekitar 1 kilometer dan bisa ditempuh dengan jalan kaki.
"Kemarin pas tawaf Ifadhah, saya nangis. Mudah-mudahan bisa ke sini lagi ya Allah," terangnya.
Selama ibadah itu, Herawati juga terus mendampingi sang suami. Bahkan saat lontar jumrah, Herawati menggantikannya selama tiga hari. Semua dilakukan sebagai bentuk kasih sayangnya pada Jarni yang dipanggil dengan sebutan kai atau kakek dalam bahasa Banjar.
Pasangan tersebut sudah mendaftar haji sejak tujuh tahun lalu atau tahun 2009. Mereka dikaruniai tiga anak dan dua cucu. Sebagian anak-anaknya bekerja di daerah lain, termasuk ada yang di Jakarta.
Sehari-hari mereka tinggal di Kabupaten Tanah Laut, Kalsel, sebagai petani. Herawati sudah tak asing dengan aktivitas jalan kaki yang memang dibutuhkan saat ibadah tawaf dan sa'i serta melontar jumrah. Teriknya matahari di Saudi juga sudah bisa diantisipasi oleh Herawati yang sehari-hari kerap 'berjemur' di ladang untuk menanam cabai.
"Sebetulnya kami kalau boleh masih pengin di sini. Nikmat sekali rasanya, hidup hanya makan tidur dan ibadah saja. Tapi ini sudah waktunya pulang ya sudah," ucap Herawati sambil tersenyum.
Lalu, bagaimana dengan oleh-olehnya untuk di kampung halaman?
"Kita nggak bawa banyak oleh-oleh. Tak bawa banyak uang soalnya. Tas kita malah penuh isinya sama barang titipan jemaah lain. Oleh-olehnya nanti cerita saja yang banyak," kata Herawati yang terus tersenyum.
Herawati dan Jarni adalah bagian dari kloter BDJ 01. Bersama 300 jemaah lain, mereka adalah rombongan pertama yang pulang ke Tanah Air. Rencananya, jemaah akan menempuh perjalanan sekitar 2 jam ke Jeddah. Lalu pesawat akan diberangkatkan sekitar pukul 09.00 waktu Saudi pagi. Lalu, mereka akan tiba di Banjarmasin sekitar tengah malam. (mad/hri)












































Foto: Pasangan Herawati dan Jarni bercerita soal pengalaman mereka di Tanah Suci (Rachmadin Ismail/detikcom)