Meski Dilarang, Perempuan Iran Ingin Bersaing Jadi Presiden
Rabu, 30 Mar 2005 12:10 WIB
Jakarta - Seorang perempuan Iran mengungkapkan harapannya untuk ikut serta dalam pemilihan presiden Iran mendatang. Anggota parlemen Iran itu tidak peduli meskipun konstitusi di negara republik Islam itu hanya mengizinkan kaum pria untuk mencalonkan diri sebagai presiden.Pada Januari lalu, Dewan Garda Iran yang meneliti kelayakan para kandidat presiden, menegaskan bahwa sesuai konstitusi Iran, hanya pria yang bisa mencalonkan diri untuk menjadi presiden. Namun perempuan Iran itu, Rafat Bayat, berharap bahwa dewan akan mengubah konstitusi tersebut dan membolehkan dirinya bersaing dalam ajang pemilihan presiden. Pemilihan presiden Iran dijadwalkan akan digelar pada 17 Juni mendatang. Demikian seperti dilansir situs Aljazeera.com, Rabu (30/3/2005)."Untuk memimpin sebuah negara diperlukan seseorang dengan ide-ide revolusioner yang didasarkan pada hukum Islam dan pemahaman akan masalah-masalah rakyat... ini persyaratan yang bisa dimiliki oleh pria dan wanita," tegas Bayat pada kantor berita semi-resmi Fars.Para politikus dan ulama Iran dari kubu reformis mendukung niat Bayat tersebut. Mereka berulang kali mendesak Dewan Garda Iran untuk mengubah pandangannya dan mengizinkan kaum perempuan untuk bersaing memperebutkan kursi kepresidenan.Kaum wanita Iran menikmati hak-haknya lebih baik daripada kaum Hawa di negara-negara tetangga Iran. Presiden Iran yang sekarang, Mohammad Khatami menunjuk seorang perempuan untuk salah satu departemen di bawah pemerintahannya dan ada belasan perempuan dari 290 anggota parlemen Iran.
(ita/)











































