Cukup aneh! Risma yang selama ini selalu gigih ingin bertahan memimpin Kota Surabaya hingga periode keduanya berakhir 2021 saja tetap elektabilitasnya melambung di ibukota.
Risma belum bergerak, Risma belum blusukan dan Risma sama sekali tidak pernah menyatakan ketertarikannya maju dalam Pilgub DKI Jakarta. Lantas mengapa elektabilitas perempuan pertama dalam sejarah memimpin Kota Surabaya ini bisa meroket?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak ada keinginan Risma untuk maju, ataupun melawan Ahok. Jauh-jauh hari, nama Risma tidak diperhitungkan. Kans yang kuat justru pada Djarot Saiful Hidayat yang sekarang sebagai pendamping Ahok alias Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Namun kini beberapa hari mendekati masa pendaftaran, beberapa lembaga survei merilis hasil penelitian tentang elektabilitas bakal calon Gubernur DKI yang punya kans untuk didaftarkan parpol tanggal 21-23 September ke KPU DKI Jakarta.
Setidaknya ada 4 lembaga survei yang merilis hasil surveinya pada bulan Agustus dan September ini. Semuanya menempatkan cagub DKI incumbent Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di dua teratas, keduanya pun bersaing sengit di tangga survei.
Berikut rincian hasil survei sejumlah lembaga yang menggambarkan head to head elektabilitas Ahok dan pesaing terdekatnya yakni Risma.
Survei KedaiKOPI, sebuah lembaga survei pimpinan Hendri Satrio ini menggelar survei pada 11-13 Agustus 2016 dengan wawancara tatap muka kepada 400 responden di 40 kelurahan di Jakarta. Pemilihan sampel dilakukan menggunakan metode sampel acak bertingkat dengan margin of error (MOE) 4,9% dan tingkat kepercayaan 95%.
Hasil elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama 47,9 persen. Dibandingkan Februari 2016, elektabilitasnya stagnan. Elektabilitas Tri Rismaharini28,6 persen. Dibanding Februari 2016, elektabilitasnya naik 22,8%.
Demikian pula Populi Center. Survei yang dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan 400 responden, di 6 wilayah DKI Jakarta. Survei yang menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error ±4.9% pada tingkat kepercayaan 95%.
Hasil elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama: 46,8 persen. Sedangkan Tri Rismaharini: 16,5 persen. Angka Risma ini mengalami kenaikan dari sebelumnya.
Sedangkan hasil Lembaga Survei Politik Indonesia (LSPI) menyebut Basuki Tjahaja Purnama: 36,2 persen. Suaranya turun 1 persen dibanding Mei lalu. Survei ini menyebut elektabitas calon gubernur Yusril Ihza Mahendra 30,4 persen. Elektabilitas Tri Rismaharini disebut hanya 11,2 persen.
Poltracking Indonesia yang dipimpin Hanta Yudha ini melakukan survei tanggal 6-9 September 2016 dengan populasi warga Jakarta yang punya hak pilih.
Penarikan sampel menggunakan multistage random sampling dengan 400 responden di seluruh Jakarta, dengan margin of error 4,95 persen pada tingkat kepercayaan 95%.
Hasil elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama: 40,77 persen. Disusul Tri Rismaharini 13,85 persen. Calon lain seperti Sandiaga Uno tercatat 9,23 persen dan Anies Baswedan 8,92 persen serta Yusril Ihza Mahendra 4,62 persen.
Tren kenaikan elektabilitas Risma di sejumlah lembaga survei ini tentu cukup menarik. Fakta tidak dapat dipungkiri bahwa ada gerakan yang masif menginginkan adanya perubahan kepemimpinan DKI Jakarta. Risma dianggap sebagai pemimpin alternatif dengan rekam jejak yang luar biasa selama memimpin Kota Surabaya.
Meski elektabilitas Risma menanjak, namun sebagian warga Jakarta yang menginginkan PDI Perjuangan mengusung Ahok merasa gelisah. Mereka khawatir PDI Perjuangan kembali menduetkan Ahok-Djarot pada Pilgub DKI 2017.
Sebuah dilema. Jika PDI Perjuangan mendengarkan arus bawah yang menginginkan Risma ke Jakarta, lantas bagaimana nasib Kota Surabaya. Sama sekali tidak pernah ada yang membahasnya.
Mampukah Surabaya yang sudah demikian pesat kemajuannya selama ini dipertahankan dan ditingkatkan oleh penggantinya, Whisnu Sakti Buana yang saat ini menjabat wakil Wali Kota Surabaya. Sudah siapkah Whisnu meneruskan apa yang telah dilakukan Risma.
Siapa pula yang akan diajukan PDI Perjuangan untuk mengisi kursi Wakil Wali Kota Surabaya yang ditinggalkan Whisnu? PDI Perjuangan Surabaya maupun pusat sama sekali tidak pernah menyinggungnya.
Ataukah elite PDI Perjuangan tidak berani membahas saat ini karena bakal muncul 'beban' tudingan menggusur Risma dari Surabaya cukup besar?
Kita lihat bersama.... (gik/van)











































