"Jadi ahli ini kita ajukan untuk menguatkan saksi jaksa. Point utama adalah bahwa Jessica dengan Mirna tidak ada hubungan sakit hati dan dendam," kata Otto seusai persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (16/09/2016) dini hari.
"Otomatis dakwaan jaksa umum terkumpulkan, ahli tadi mengatakan apa yang dikatakan Natalia (Psikiater Forensik RSCM dr Natalia Widiasih Raharjanti) itu benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Tidak ada fakta bahwa motif cinta." lanjutnya.
Terkait saksi ahli yang akan kembali dihadirkan dalam persidangan, Otto mengatakan, sebenarnya masih ada 10 saksi yang dirinya dan tim kuasa hukum Jessica akan hadirkan. Namun, karena menipisnya kesempatan yang dimiliki untuk menghadirkan saksi, maka dirinya akan menyiapkan paling tidak 6 orang saksi saja.
"Jatah kami tinggal 3 kali lagi, ini terpotong karena ada majelis yang bersidang di MK. Sebenarnya kami masih punya 10 saksi, nah kita belum bisa siapkan dari 10 (saksi) mana yang harus kami ajukan. Kami masih bersiap-siap satu hari 2 saksi. Kita akan berdiskusi dan akan putuskan saksinya" ucap Otto.
Sebelumnya, dalam persidangan yang digelar hingga tengah malam itu, saat Otto bertanya kepada Firmansyah tentang potensi Jessica apabila mendapat tekanan mengarah untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain. Firmansyah mengatakan saat sedang stres, Jesica cenderung menyakiti dirinya sendiri.
"Saya konsisten bahwa kemungkinan selalu ada artinya seorang tiba-tiba melakukan tindak kekerasan itu bisa mungkin terjadi dan banyak kasus di psikiatri. Tapi kalau dikaitkan dengan pola yang pernah terjadi yaitu pola luapan emosi, itu kelihatannya tidak konsisten di sini karena yang terjadi adalah pola menyakiti diri sendiri dengan agresifitas atas masalah yang ditimbulkan oleh pacarnya," kata Firmansyah dalam persidangan.
Firmansyah menyebutkan bahwa potensi untuk mengalihkan pada orang lain seperti dalam kasus ini kepada Mirna tetap ada, namun sangat sedikit kemungkinannya. Dia menjelaskan bahwa pola tiap orang dalam menunjukkan reaksi terhadap stres itu berbeda sehingga kecenderungan untuk melakukan tindakan-tindakan yang dalam keadaan biasa tidak dilakukan sangat erat kaitannya antara stres dengan gangguan emosional.
(miq/miq)











































