Saat berada di Jamarat, Selasa (13/9) lalu, dua petugas tersebut membawa satu botol berisi air yang dilengkapi kipas dan alat penyemprot. Sepanjang jalan, mereka menyemprotkan air itu ke wajah. Bila ada jemaah yang terlihat lemas, mereka juga menyemprotkannya ke wajah sang jemaah.
Foto: Petugas usai menyemprotkan air ke jemaah haji (Rachmadin Ismail/detikcom) |
Salah seorang jemaah yang disemprot wajahnya mengaku sangat terbantu. Sempat lemas dan kepanasan, setelah disemprot dia bisa kembali berjalan walau harus pelan-pelan.
Selain mereka, para petugas kesehatan lain pun diberi alat khusus untuk menyemprot jemaah. Para petugas keamanan Saudi juga membawa botol dan alat penyiram khusus di sepanjang jalan menuju Jamarat. Mereka menyemprotkan air pada setiap jemaah yang lewat agar tak mengalami dehidrasi dan heatstroke.
Foto: Jemaah haji Indonesia (Madin/detikcom) |
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Muchtaruddin Mansyur menerangkan, heatstroke adalah puncak dari gangguan kesehatan pada jemaah haji akibat cuaca panas dan kekurangan cairan. Efeknya bisa mematikan bila tak cepat tertangani dengan baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Level tertingginya adalah heatstroke. Ini adalah terganggunya fungsi kestabilan suhu tubuh akibat panas. Serangan ini bisa memicu ke penyakit lainnya seperti jantung dan organ vital lain. Tak jarang, dampaknya adalah kematian.
"Sebagian dan terbesar itu menyebabkan kematian pada jemaah," kata Muchtaruddin.
Karena itu, penting bagi para jemaah untuk selalu minum agar suhu tubuh terus terjaga. Selain itu, penting juga melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Najmi dan Abier untuk menyemprotkan air ke wajah.
"Tujuannya untuk segera menurunkan temperatur tubuh. Seperti mesin, kalau switch pengatur suhu tubuh rusak maka perlu dibantu dari luar," kata Muchtaruddin.
(mad/miq)












































Foto: Petugas usai menyemprotkan air ke jemaah haji (Rachmadin Ismail/detikcom)
Foto: Jemaah haji Indonesia (Madin/detikcom)