Kepala Rescue dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Purwakarta, Helmi Setiawan menjelaskan, longsor terjadi setelah Rabu 14 September kemarin wilayah tersebut diguyur hujan deras. Di bagian belakang permukiman warga terdapat proyek pembangunan perumahan. Diduga tembok pembatas perumahan tak mampu menahan debit air yang bercampur dengan lumpur bekas proyek sehingga jebol dan berimbas pada pemukiman warga.
"Akibatnya dua rumah rusak berat dan enam lainnya rusak ringan. Kalau total keseluruhan yang terkena imbas ada sekira 80 rumah," jelas Helmi melalui sambungan telepon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pertemuannya itu pemilik proyek, Ny Ibar, meminta maaf pada Dedi karena telah mengakibatkan beberapa rumah warga mengalami kerusakan dan 80 diantaranya terkena imbas akibat longsoran tersebut.
"Kami minta maaf Pak Bupati. Saya deg-degan, jantung kaya mau copot makanya kami langsung ke sini," ucap Ny Ibar sambil membungkuk dan menangis di hadapan Dedi.
Meski tak tega, Dedi tetap mencoba menenangkannya sambil menanyakan penyebab sebenarnya. Setelah mendengarkan penjelasan dari pihak pengembang Dedi pun meminta agar dibuatkan drainase atau saluran pembuangan agar longsor tak kembali terjadi.
Saat diminta hal tersebut, Ny Ibar pun mengaku sejak awal sudah akan membuat drainase. Namun selalu mendapat penolakan dengan alasan tidak melibatkan warga setempat saat pekerjaan pembangunan termasuk drainase.
"Kami sempat melibatkan organisasi masyarakat setempat dan karang taruna untuk merekrut warga. Tapi ternyata yang direkrut itu malah warga luar Kampung Cinangka," sesal Ny Ibar.
Meski demikian Ny Ibar mengaku siap untuk mengganti rugi seluruh kerusakan yang dialami warga. Dia meminta agar Dedi membantu proses mediasi agar permasalahan cepat selesai dan aktifitas pembangunan bisa segera selesai.
"Iya nanti saya bantu untuk menuntaskan permasalahan ini. Agar usaha ibu bisa berjalan lancar dan warga bisa hidup nyaman lagi," tutup Dedi. (trw/trw)










































