Bocah Tewas karena Difteri, Bupati Dedi 'Ceramahi' Dinkes hingga Ketua RT

Bocah Tewas karena Difteri, Bupati Dedi 'Ceramahi' Dinkes hingga Ketua RT

Tri Ispranoto - detikNews
Kamis, 15 Sep 2016 14:59 WIB
Bocah Tewas karena Difteri, Bupati Dedi Ceramahi Dinkes hingga Ketua RT
Foto: Tri Ispranoto/detikcom
Purwakarta - Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, memanggil seluruh pihak terkait kasus tewasnya seorang bocah bernama Ilham warga Kampung Cijanggot, Desa Cisalada, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, karena penyakit difteri pada Rabu 14 September kemarin.

Pada Kamis (15/9/2016), Dedi memanggil Kepala Dinas Kesehatan, Anne Hediana, Dirut RSUD Bayu Asih, Agung Darwis, Kades Cisalada, Endang Supriadi, dan beberapa ketua RT yang warganya terserang difteri.

Dalam pertemuan itu terungkap jika warga di RT 7 dan RT 8 menolak anak-anaknya untuk diimunisasi. Hal itu lantaran tokoh agama setempat bertentangan dengan pemerintah sehingga melarang warga untuk mengikuti program seperti imunisasi dan KB.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu ada tokoh agama yang melarang imunisasi. Segala program pemerintah seperti KB juga. Dulu bilangnya itu haram. Sekarang tokoh itu sudah tidak ada (meninggal dunia), tapi sebagian masih nurut fatwa," jelas Kades Endang.

Dedi mengakui di wilayah tersebut warganya selalu menolak program pemerintah. Bahkan terakhir program Arisan Gotong Royong yang merupakan bentuk kekompakan warga satu kecamatan untuk melakukan bersih-bersih di satu desa pun terkesan dibiarkan sehingga daerah tersebut kotor dibanding dengan yang lainnya.

"Siapa suruh gak nurut sama bupati 'kafir'. Harusnya minta tanggung jawab biaya pengobatan pada yang mendalilkan itu. Minta tanggung jawab sekarang warganya meninggal pada orang yang melarang (imunisasi) dan mengkafirkan saya," ucap Bupati Dedi.

Menurut Dedi program imunisasi masal itu dilakukan pemerintah secara cuma-cuma sekira enam tahun ke belakang. Namun khusus daerah Kampung Cijenggot, RT 7 dan RT 8, program tersebut ditolak warga dan lebih memilih pada tokoh agama setempat.

Bahkan, kata Dedi, saat dilakukan imunisasi door to door dua RT tersebut melakukan penolakan dengan menutup dan mengunci pintu rumahnya masing-masing saat petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta akan melakukan tugasnya.

"Dulu mereka bandel, sampai-sampai pintu di kunci. Mereka mengikuti tokoh agama setempat, haram katanya," tuturnya.

Namun pasca warga di dua RT tersebut mulai terjangkit Difteri kini mereka mulai berbondong-bondong mengantarkan anaknya ke puskesmas terdekat untuk diimunisasi agar tidak tertular penyakit yang menyerang saluran pernafasan tersebut. (trw/trw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini