drh Denok Asih Triranti menilai kesejahteraan peternak bergantung pada kesehatan ternaknya. Sehingga kesehatan ternak itulah yang seharusnya dikelola sebagai investasi secara serius.
Ide ini dibawa Denok pada sebuah kompetisi ide socio enterpreneur pada tahun 2015 dan berhasil menjadi salah satu finalisnya. Berawal dari kompetisi tersebut, Denok kini bersama suaminya, Nico Setyo Utomo, menjalankan Bank Liran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Sukma Indah P/detikcom |
"Prinsipnya kan satu, ketika hewan ternak mati, maka investasinya mati," ujar Nico saat ditemui detikcom di Gedung Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (14/9/2016).
Nico mengungkapkan, di Cangkringan terdapat sekitar 4.000 sapi dengan potensi 80 ton limbah setiap harinya. Namun mengajak para peternak untuk mau mengelola limbahnya dengan disiplin rupanya tidaklah mudah.
Ketika menjadi nasabah Bank Liran, peternak harus mengelola limbah ternaknya agar bisa dimanfaatkan dan bernilai jual. Dengan ini, terjadi proses edukasi pada peternak yang sebelumnya cenderung malas mengelola limbah ternaknya.
"Biasanya limbahnya hanya dibiarkan saja. Dekat dengan hewannya nggak bagus, dan dekat dengan manusianya juga tidak sehat," jelasnya.
Foto: Sukma Indah P/detikcom |
Dari yang awalnya hanya ada empat dokter hewan, kini Bank Liran sudah memiliki 40 petugas medis yang siap menangani setiap permasalahan kesehatan ternak. Tak hanya itu, saat ini sudah ada 15 kelompok ternak yang bergabung dengan Bank Liran. Dimana dalam satu kelompok terdiri dari 20-30 orang peternak.
Nico mengatakan, pihak bank Liran juga berperan sebagai pendamping dalam proses pengolahan limbah ternak yang tetap dilakukan oleh masing-masing peternak. Sehingga selain tenaga medis, Bank Liran juga memiliki tim bagian pengelolaan limbah.
Limbah ternak ini diolah menjadi berbagai jenis pupuk. Prinsip proteksi berupa garansi dan asuransi dianggap lebih aman untuk para peternak.
"Nanti hasil pengolahan limbah dan penjualan pupuk dari limbah ternak akan menjadi premi untuk pengobatan hewan ternak. Apalagi ternak itu ada musim-musiman (penyakit). Setiap 6 bulan ada musim yang rentan," jelas Nico.
Foto: Sukma Indah P/detikcom |











































Foto: Sukma Indah P/detikcom
Foto: Sukma Indah P/detikcom
Foto: Sukma Indah P/detikcom