Bagi-bagi sembako tersebut dilakukan di kediaman Gatot Brajamusti yang berlokasi di Jalan Niaga Hijau X Nomor 6 Pondok Pinang, Kebayoran, Jakarta Selatan. Lokasi inilah yang digeledah polisi pada Jumat 2 September 2016 malam hari.
Polisi saat itu menemukan butiran kristal putih diduga sabu dalam brankas di rumah Gatot Brajamusti seberat 17,08 gram. Selain itu, polisi menemukan senjata api, ratusan butir peluru dan obat kuat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumat besok saya nggak ada di sini, jadi nggak ada pembagian sembako," ujar Iwan (39) menirukan ucapan terakhir Gatot waktu itu saat berbincang dengan detikcom, Rabu (14/9/2016).
Menurut Iwan, sehabis memberikan amplop dan sembako terakhir itu Gatot sempat foto-foto bersama warga yang datang. Acara ini juga kerap dihadiri Reza Artameva. Selain itu, menurutnya, Reza juga kadang hadir di acara pembagian sembako yang rutin saban Jumat dilakukan oleh Gatot. Jika tidak ikut membagikan, Reza dan orang-orang di sekitar Gatot nimbrung untuk saling foto.
Kebiasan Gatot memberikan sembako ini sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun.
Mukim (60), petugas keamanan setempat mengatakan Gatot Brajamusti tercatat sebagai warga lama di Pondok Pinang. Sebelum pindah ke Niaga Hijau X No.6 rupanya ia juga pernah tinggal selama 4 tahun di Niaga Hijau X No.1.
"Sebelum ngontrak di nomor 6, dulu di Niaga Hijau nomor 1, yang sekarang baru setengah tahun," ujar Mukim.
Menurut Mukim, pembagian sembako rutin oleh Gatot memang sudah lama dilakukan. Bahkan warga yang datang tidak hanya dari sekitaran Pondok Pinang. Ada warga yang sudah lama mengenal Gatot sengaja datang dari Lebak Bulus atau Bekasi. Paling sedikit, 150 orang yang datang untuk menerima sembako dari Gatot. Nominal amplop kadang-kadang bisa sampai Rp 100.000.
Menurut Mukim, warga sekitar justru tidak menyimpan kecurigaan terkait dengan kasus narkoba yang melilit Gatot. Tapi warga tahu rumah Gatot memang selalu dikunjungi banyak orang. Setiap sore pintu selalu terbuka, dan kadang aktivitas sampai subuh meskipun Gatot memang tertutup bagi warga sekitar.
"Kalau misalnya ada narkoba mungkin sudah kena, di sini warga melihatnya baik-baik," ujar Mukim.
Rumah Gatot Brajamusti yang menjadi tempat penyimpanan narkoba juga tampak sepi. (Foto: Bahtiar Rivai/detikcom) |
Dari pantuan detikcom, rumah Gatot sampai sekarang masih tertutup. Ada sepeda motor yang terparkir dan poster film besar berlatar belakang Gatot Brajamusti bergaya bak seorang polisi berjudul D.P.O (Detachemnt Police Operation).
Tak Izin Kelurahan
Aktivitas Gatot Brajamusti sehari-hari yang tertutup rupanya juga diamini oleh pihak kelurahan. Meskipun setiap Jumat melakukan pembagian sembako dan amplop yang sudah bertahun-tahun, Gatot tidak pernah memberitahu pihak kelurahan atau pejabat setempat.
"Biasanya kalau mau membagi sembako, apalagi rutin, selalu melibatkan kelurahan. Kalau Pak Gatot membagikan sembako setiap minggu, kita ngggak tahu sama sekali," kata Sri Bandiyati (52), sekretaris kelurahan Pondok Pinang.
Sri menambahkan bahwa pembagian sembako di lingkungan warganya memang lazim dilakukan oleh masjid atau gereja. Namun, hal tersebut selalu dikoordinasikan oleh panitia, dan pihak kelurahan akan memanggil warganya untuk berkumpul. Bahkan kadang menurutnya pembagian selalu dilakukan di kelurahan. (aan/iy)












































Rumah Gatot Brajamusti yang menjadi tempat penyimpanan narkoba juga tampak sepi. (Foto: Bahtiar Rivai/detikcom)