Laporan dari Arab Saudi

Di Atas Bukit Sampai Truk, Begini Antusiasme Jemaah Dunia Saat Mabit di Mina

Rachmadin Ismail - detikNews
Selasa, 13 Sep 2016 16:50 WIB
Foto: Rachmadin Ismail/detikcom
Jakarta - Jutaan orang berada di Mina untuk melaksanakan mabit dan melontar jumrah. Konsentrasi massa tak hanya di pemondokan, namun juga di area dekat Jamarat. Jemaah memenuhi sisi jalan sampai atas bukit bahkan kendaraan.

Pantauan sekitar pukul 23.00 Waktu Saudi, Senin (12/9/2016), para jemaah Indonesia yang berada di sekitar jamarat adalah mereka yang enggan kembali ke pemondokan. Para jemaah itu memilih untuk melaksanakan mabit sampai dinihari, lalu langsung melontar untuk hari kedua atau kembali ke hotel di Makkah.

Sebagian lagi jemaah di dekat Jamarat adalah para mukimin Indonesia yang sudah menetap lama di Saudi, termasuk juga para mahasiswa atau pelajar. Bersama keluarga, mereka menggelar tikar di sisi jalan King Malik Fahd, lalu mabit sampai tengah malam.

"Besok baru lontar lagi," kata seorang pria asal Madura yang 15 tahun tinggal di Saudi.

Karena area yang terbatas dan larangan mabit di tengah jalan, para jemaah harus berputar otak mencari celah sesempit apa pun untuk duduk dan beribadah. Tak heran, ada yang sampai memenuhi ruang-ruang kosong di depan tenda jemaah lain, ada yang duduk di selasar toko, bahkan ada yang naik ke atas truk sampai bukit.

Khusus yang naik ke bukit, kondisinya memang cukup ekstrem. Bukit tersebut terletak di ujung terowongan King Malik Fahd dan cukup curam. Namun ada saja jemaah yang naik dan berdiam di sana. Jumlahnya cukup banyak, mencapai ratusan.

Untuk makanan, mereka mengaku membawa perbekalan seadanya. Ada yang hanya membawa roti, tak sedikit juga yang membeli nasi di sekitar area Jamarat. Namun yang paling laris malam tadi adalah restoran cepat saji Albaik, yang antreannya mengular hingga bermeter-meter.

Total ada lebih dari 1,5 juta jemaah yang mengikuti lontar jumrah dan mabit di Mina. Untuk Indonesia jumlahnya tak kurang dari 154 ribu. Kawasan Mina adalah area yang sudah ditentukan batasannya dalam syariat Islam, karena itu tak ada ruang bagi perluasan.

Dengan padatnya jemaah dan kondisi ruang terbatas, maka Mina jadi rawan insiden desak-desakan. Sejak lama, para jemaah Indonesia sudah diimbau untuk tetap berada di tenda dan hanya melontar saat waktu yang sudah ditentukan. Ada beberapa jam terlarang melontar bagi jemaah Indonesia untuk menghindari insiden tahun lalu yang mengakibatkan 129 orang dari Indonesia meninggal dunia.

Hari ini, jam terlarang bagi jemaah Indonesia adalah pukul 14.00-18.00 Waktu Saudi. Lalu untuk tanggal 12 Dzulhijah atau 14 September, para jemaah dilarang melontar pukul 10.30 sampai pukul 14.00 waktu Saudi.

Tim dari PPIH Arab Saudi juga sudah sering mengimbau agar para jemaah yang sakit atau tak kuat berjalan untuk lontar jumrah agar mewakilkannya pada jemaah lain. (mad/aan)