Grebeg Besar digelar untuk menandai puncak peringatan Idul Adha pada 10 Dzulhijah atau 10 Besar. Setiap tahunnya Keraton Surakarta yang merupakan penerus dinasti Mataram Islam selalu menggelar tiga kali tradisi grebeg untuk memperingati hari besar keagamaan yaitu Grebeg Mulud pada 12 Rabiul Awal, Grebeg Syawal pada Idul Fitri, dan Grebeg Besar pada Idul Adha.
Grebeg berupa mengarak gunungan makanan yang disediakan oleh keraton. Dua gunungan yang disebut gunungan lanang dan gunungan wadon, diarak dari dalam keraton menuju Masjid Agung di kompleks Alun-alun Utara untuk didoakan. Arak-arakan gunungan dikawal oleh pasukan khas keraton dan diikuti puluhan kerabat serta abdidalem keraton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Setelah didoakan di masjid, gunungan tersebut dibawa kembali ke kompleks keraton. Tepat di halaman keraton, gunungan diturunkan untuk diperebutkan oleh ratusan warga yang telah menunggu. Rayahan atau berebut isi gunungan telah mentradisi semenjak ratusan tahun karena kepercayaan warga terhadap berkah yang terkandung dalam makanan yang telah didoakan oleh para ulama.
Perayaan Grebeg Besar tahun ini tidak bertepatan dengan 10 Dzulhijah tahun hijriyah. Hal tersebut dikarenakan sesuai kalender tahun Jawa yang digunakan oleh keraton, tanggal 10 bulan Besar baru jatuh pada hari ini.
![]() |
"Berdasarkan perhitungan kalender karaton yang dibuat sejak masa bertahta Sultan Agung Hanyokrokusumo, 10 Besar Jimawal tahun 1949 Jawa bertepatan dengan hari Selasa Legi tanggal 13 September 2016," papar Wakil Pengageng Sasonowilopo Keraton Surakarta, KPA Winarnokusumo, Selasa (13/9/2016).
Karena tidak bertepatan dengan hari libur, pengunjung yang menghadiri grebeg tidak sebanyak pada grebeg-grebeg sebelumnya yang biasanya digelar bertepatan dengan hari libur nasional. Namun demikian, masih nampak terlihat antusias warga yang memenuhi areal halaman keraton hingga halaman Masjid Agung. Mereka juga bersabar menunggu hingga gunungan kembali dibawa ke keraton.
![]() |