Pengamat: Tak Ada Menteri Ekonomi RI Bisa Dekati Negara Arab

Pengamat: Tak Ada Menteri Ekonomi RI Bisa Dekati Negara Arab

- detikNews
Selasa, 29 Mar 2005 23:54 WIB
Yogyakarta - Meski sudah ganti presiden hingga enam kali, tak ada satupun menteri ekonomi Indonesia yang mampu mendekati negara-negara Timur Tengah terutama penghasil minyak terbesar dunia untuk menanamkan modalnya. Tak satupun menteri yang bisa Bahasa Arab dan mengerti kebudayaan Timur Tengah.Hal itu dikemukakan oleh pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI) Dr Kurtubi dalam ceramah umum "Minyak, Islam dan Perang" di ruang promosi Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Selasa (29/3/2005)."Itu lemahnya kita, sejak presiden kita ganti hingga yang keenam kali. Tak ada satupun menteri yang bisa mendekati mereka atau menguasai bahasa Arab, apalagi mengenal budaya Timur Tengah," katanya.Menurut dia, Indonesia sebagai salah satu produsen minyak dunia meski jumlahnya relatif kecil dibanding negara-negara di Timur Tengah, seharusnya melakukan pendekatan budaya dan agama terhadap mereka. Dengan harapan mereka bersedia menanamkan modalnya di Indonesia."Namun sayangnya itu tak pernah dilakukan. Bila itu dilakukan mereka mau berinvestasi ke Indonesia, uang dolar akan kembali mengalir ke Indonesia," kata staf pengajar FE UI itu.Sementara menurut staf pengajar Fisipol UGM Siti Mutiah Setiawati MA, negara-negara Islam penghasil minyak dunia terutama di Timur Tengah, tak akan pernah mampu menghadapi dominasi AS dan sekutunya. Meski minyak dunia tergantung negara Timur tengah, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa."Mereka takut terkena embargo dan aset-aset kekayaan di luar negeri takut dibekukan," katanya.Bila membangkang terhadap AS kata Siti bisa terancam embargo seperti kasus Irak dan Iran. Sebaliknya, bila patuh kepada AS, pasti akan maju seperti yang dialami Qatar dan Saudi Arabia. Sebaliknya bila membangkang aan diembargo seperti kasus Iran ketika menentang Israel."Pengalaman seperti itu yang ditakutkan negara-negara Islam di Timur Tengah agar harta mereka diluar negeri tidak dibekukan," katanya. (fab/)


Berita Terkait