Wanita Agen Anti Korupsi
Selasa, 29 Mar 2005 23:28 WIB
Den Haag - Kaum wanita bisa menjadi agen pemberantasan korupsi dan perbaikan, baik dalam posisinya sebagai istri maupun sebagai ibu dari anak-anak penerus bangsa.Demikian benang merah dari seminar sehari bertajuk 'Harmonisasi Tanggungjawab Wanita antara Keluarga dan Masyarakat' yang digelar Seksi Kewanitaan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) perwakilan di Belanda di KBRI Den Haag (27/3/2005). Seminar menampilkan pembicara tunggal Ketua International Muslim Women Union (IMWU) Yoyoh Yusroh, yang juga anggota DPR RI dari Fraksi PKS.Yusroh menjelaskan, dalam posisinya sebagai ibu, seorang wanita dapat mendidik bangsa untuk tidak menjadi koruptor, yakni dimulai dengan mendidik putera-puterinya untuk menjauhi dan tidak menjadi koruptor. Hal tersebut antara lain dapat dicapai dengan pendidikan keimanan dan pembiasaan pola asuh dengan kejujuran kepada anak sejak dini. "Untuk ini perlu dipelajari konsep pendidikan anak dalam Islam yang kedudukannya merupakan fardhu 'ain (wajib atas setiap individu, red)," kata Yusroh.Wanita kelahiran Tangerang, 14/11/1962, itu menekankan pentingnya soal ini menjadi perhatian kaum wanita dengan memaparkan bahwa republik ini menjadi republik koruptor nomor 1 di Asia dan nomor 6 di dunia, hutang luarnegerinya telah mencapai 132,2 miliar USD atau 80 persen dari PDB, sementara Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia berada di kelompok urutan terendah (112), setara Vietnam.Dengan jumlah sekitar 110 juta (50,52 persen), potensi kaum wanita untuk berperan ikut melakukan perbaikan masyarakat dan negara cukup signifikan. Apalagi, kata Yusroh, posisi dan harkat wanita-pria dalam Islam itu sejajar. Namun dalam implementasinya perlu memperhatikan keseimbangan dan signifikansi, mengingat luasnya wilayah peran wanita serta efisiensi. "Peran itu juga bukan semata berdasarkan kepentingan pribadi, tetapi diletakkan dalam konteks pemberdayaan bangsa, sehingga bukan merupakan manuver pribadi tetapi bagian dari sistem yang bekerja untuk meningkatkan kualitas kehidupan," papar Yusroh.Ditambahkan, bahwa nasib wanita Indonesia sendiri saat ini belum cukup menggembirakan. Masalah-masalah krusial yang saat ini dihadapi kaum wanita antara lain tingginya angka kematian ibu (AKI), yakni 307 orang per 100.000 kelahiran hidup atau 2 orang per jam; gaji yang masih rendah, trafficking, dan problematika buruh migran. Yusroh mendorong kaum wanita agar kesetaraan seperti dijamin dalam Islam dijadikan pemicu untuk bekal mengoptimalkan peran dan kontribusi, bisa sebagai ilmuwan, pebisnis dan lain-lain. "Seperti di masa Rasulullah, Aisyah r.a menjadi ilmuwan dengan meriwayatkan 3.200 hadits, Zainab punya perusahaan kulit, dan Ummu Salamah berbisnis makanan," demikian Yusroh.
(es/)











































