Salah satu yang ditemui ialah Tan Li Wern yang merupakan mahasiswa tingkat akhir Jurusan Kedokteran Hewan dari IPB. Tan mengatakan bahwa hal ini lumrah bagi mahasiswa tingkat akhir Jurusan Kedokteran Hewan.
"Setiap tahun, mahasiswa Kedokteran Hewan memang disuruh ke lapangan. Salah satunya ialah saat pemotongan hewan kurban," kata Tan di area Masjid Al-Ihsan, Jl. Kerinci X, Gunung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (12/9/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penyakit zoonosis seperti antraks kebanyakan berasal dari sapi dan kambing karena paling sering dikonsumsi masyarakat. Jadi saya periksa hati, jantung, paru, limpa dan ginjal. Dari segi warna, bentuk dan penyakit," ujar Tan.
Hal yang paling mudah ditemui ialah cacing yang ada di dalam hati. Hati yang ada cacingnya, menurut Tan tidak layak untuk dikonsumsi. Walaupun hati tersebut dimasak hingga matang.
"Hati kalau ada cacingnya nggak layak untuk dikonsumsi. Walaupun dimasak dengan matang, tetap nggak bagus karena bahaya. Tadi saya temukan ada hati yang ada cacingnya. Sudah saya buang," ucap Tan.
Menggunakan sebilah pisau hijau, Tan mengiris organ-organ yang baru dikeluarkan dari perut kambing. Di sela kesibukannya itu, ia sedikit memberikan penjelasan.
"Ini paru-paru, kalau warnanya pink dan kenyal saat diremas berarti hewannya sehat. Kalau jantung, harus kita buka dahulu. Setelah itu dibersihkan dari darah beku. Baru setelah itu bisa dikonsumsi," kata Tan.
"Kalau ini limpa. Jika di tepi limpanya runcing, berarti hewannya sehat. Tapi kalau tepiannya tumpul, berarti hewannya lagi sakit," tambahnya.
Tan mendapatkan tugas pengecekan ini hingga pukul 14.00 WIB. Ia sudah memulai pekerjaannya sejak pukul 08.00 WIB. (tor/tor)











































