Sejak pagi, Dedi sudah tiba di Masjid Ar Rohmah yang terletak di Kampung Babakan Kupa, RT 12 RW 5, Desa Nangewer, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta. Meski begitu, Dedi tak langsung menuju ke masjid melainkan sejenak beramah tamah dengan warga yang sudah berkumpul untuk menyambutnya.
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bersama istri dan 2 anaknya (foto: Tri Ispranoto/detikcom) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar pukul 6.20 WIB rangkaian salat Idul Adha pun dimulai dengan sambutan Dedi. Dalam sambutannya, Dedi mengajak warga untuk merenungi kehidupan selama ini yang berasal dari Allah SWT dan nantinya akan kembali pada-Nya.
Bupati Purwakarta dan 2 anaknya (foto: Tri Ispranoto/detikcom) |
Selain itu, Dedi pun mengajak para orang tua bisa memaknai kisah Nabi Ibrahim AS yang berkurban menyembelih anaknya, Nabi Ismail AS, dalam kehidupan masa kini. Kisah tersebut, menurut Dedi, adalah sebuah pengorbanan anak terhadap orang tuanya. Namun saat ini kebalikannya sehingga anak semakin berani pada orang tua dan hilangnya aspek produktif dan kreatif.
"Matak turutan urang teh meuncit anak. Maksud meuncit teh, budak hayang motor peuncit ulah waka, budak hayang HP ulah waka, budak hayang boga kabogoh ulah waka. (Makanya ikuti kita itu menyembelih anak. Maksud menyembelih itu, anak ingin motor sembelih jangan dulu, anak ingin HP jangan dulu, anak ingin pacar jangan dulu)," tuturnya.
Dedi pun tak menyalahkan jika saat ini Indonesia tengah kekurangan daging, beras, dan beberapa bahan pokok lain. Pasalnya anak lebih memilih untuk hidup konsumtif dengan terus menerus menonton TV, menghabiskan pulsa HP, dan menghamburkan bensin kendaraan bermotor.
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (Foto: Tri Ispranoto/detikcom) |
"Ari sawah nu ngahasilkeun kejo ditinggalkeun, kebon nu ngahasilkeun teh diculkeun, boga taneh jeung sawah lila-lila beak dijual. Kajadianna daging mahal, beas mahal, bensin mahal, kebon nu batur, sawah nu batur. Bagian dek ngalamar ka pabrik, teu kabagean. Pangangguran weh di mana-mana. (Sawah yang menghasilkan nasi ditinggalkan, kebun yang menghasilkan teh dibiarkan, punya tanah dan sawah lama-lama habis dijual. Kejadiannya daging mahal, beras mahal, bensin mahal, kebun jadi milik orang lain, sawah juga punya orang lain. Pas mau melamar ke pabrik, tidak kebagian. Akhirnya pengangguran di mana-mana)," beber pria yang akrab disapa Kang Dedi itu.
Dalam kesempatan itu Dedi pun menjelaskan maksud dan tujuannya menghapuskan PR yang bersifat akademis bagi para pelajar. Menurutnya urusan akademis seharusnya diselesaikan di sekolah, sementara PR harus disesuaikan dengan akronimnya yakni pekerjaan rumah.
Dia mencontohkan, contoh kecil bagi pelajar yang tinggal di pedesaan seperti di Desa Nangewer adalah membantu orang tua yang berprofesi sebagai petani dengan mengaplikasikan pelajaran akademis yang didapat di sekolahnya.
"PR jeung di lembur mah bisa kanu babad jukut, mantuan tani di sawah, amalkeun aplikasikeun eta elmu ti sakola. Sanajan budak pinter tapi teu daek macul, teu daek ngarit, teu daek nyekel ingu-inguan, moal naek. (PR untuk anak kampung bisa nyambit rumput, bantu bertani di sawah, amalkan dan aplikasikan ilmu yang didapat di sekolah. Walau pun anak pinter tapi tidak mau macul, tidak mau ngarit, tidak mau memegang hewan ternak, tidak akan naik)," tuturnya.
Terakhir, kata Dedi, dia menitipkan agar hewan kurban yang disembelih tidak dibagikan dengan cara kupon dan berujung antrian. Sudah seharusnya mereka yang dianggap fakir atau membutuhkan dimuliakan dengan cara daging kurban diantarkan ke rumahnya masing-masing.
"Nu fakir tong dihinakeun. Tong aya nu apaleun eta dulur urang teh fakir. Anteurkeun ka imahna, muliakeun manehna. (Yang fakir jangan dihinakan. Jangan ada yang tahu saudara kita itu ada yang fakir. Antarkan ke rumahnya, muliakanlah mereka)," tutup Ded.
Usai rangkaian salat Idul Adha, Dedi pun beranjak bersama istri dan kedua anaknya ke bagian belakang masjid untuk menyerahkan hewan kurban berupa satu ekor sapi berukuran besar warna putih yang nantinya daging akan dibagikan pada warga sekitar.
(dhn/dhn)












































Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bersama istri dan 2 anaknya (foto: Tri Ispranoto/detikcom)
Bupati Purwakarta dan 2 anaknya (foto: Tri Ispranoto/detikcom)
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi (Foto: Tri Ispranoto/detikcom)