Kurban & Teladan Sukses Membangun Keluarga

Kurban & Teladan Sukses Membangun Keluarga

Asrorun Ni’am Sholeh - detikNews
Minggu, 11 Sep 2016 16:46 WIB
Kurban & Teladan Sukses Membangun Keluarga
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta - Membangun keluarga membutuhkan keteladanan dari kedua orangtua. Untuk siapa keteladanan tersebut? Tentu saja anak yang membutuhkan figur teladan yang baik. Anak terlahir dalam kondisi fitrah, yang memiliki keunggulan, keunikan, dan keistimewaan, yang berbeda satu dengan yang lainnya. Adalah tanggung jawab orang tuanya untuk mengoptimalkan perkembangan seluruh potensi dan fitrahnya, sesuai dengan ajaran agama. Seluruh anak terlahir dengan modal yang sama, dan orang tuanya lah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan juga Majusi. Peran orang tua begitu besar, maka tanggung jawab ini harus ditunaikan secara baik.

Di samping sebagai amanah, anak adalah karunia Allah Yang Maha Kuasa yang harus kita syukuri. Ia merupakan penerus garis keturunan yang dapat melestarikan pahala bagi kedua orang tua sekalipun orang tua yang sudah meninggal. Dalam realitas kehidupan keseharian kita, banyak orang jatuh karena ketidakmampuan mengendalikan diri dari godaan harta. Upaya mengejar kekayaan duniawi seringkali melalaikan kaidah hukum dan kepatutan. Terjadi pencurian, penipuan, dan juga kasus korupsi, sering berujung pada petaka hukum. Belum lagi jenis usaha yang menghalalkan cara, Muamalah Ribawiyah, dan jenis transaksi non-syariah lainnya. Salah satu pemicunya pun seringkali untuk kepentingan memberi nafkah anak dan keluarga. Padahal kita diingatkan oleh Rasulullah SAW untuk memberi rizki anak hanya dari yang halal. Setelah keharusan untuk mencari rizki dengan cara yang halal dan thayyib, kita diingatkan untuk membelajakannya secara baik. Salah satu wujud pembelanjaan tersebut adalah dengan berkurban.

Di samping fakta soal harta, di tengah masyarakat seringkali anak menjadi faktor pemicu konflik, terjadi rebutan kuasa asuh saat perceraian, konflik bertetangga akibat ingin membela anak, hingga konflik dengan sekolah dan lingkungan akibat cinta buta terhadap anak. Salah perlakuan terhadap anak juga seringkali kemudian memicu terjadinya kekerasan, permusuhan, sampai pembunuhan. Akibat tanggung jawab tidak dilaksanakan secara baik, maka tidak jarang kita lihat anak diterlantarkan oleh orang tua, dieksploitasi secara ekonomi, dilacurkan, dan segala bentuk kriminalitas yang lain. Bahkan, tidak jarang, akibat tidak adanya pengawasan secara baik dari kita, anak-anak bisa terlibat tawuran, pergaulan bebas, dan juga narkoba.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelajaran terpenting dari ibadah qurban antara lain adalah bagaimana mendudukkan kecintaan kita kepada dunia secara proporsional, dengan amanah, semata untuk menggapai keridaan Ilahi. Ibadah kurban mengajarkan bagaimana kiat sukses dalam ujian harta dan anak.

Kisah Ibrahim AS memberikan keteladanan kepada kita pentingnya mendengar pendapat anak. Cara komunikasi orang tua dengan anak dibangun dengan cara dialogis, dan memandang anak sebagai makhluk unik, yang memiliki rasa serta pandangan. Sungguhpun Ibrahim sadar bahwa apa yang diimpikannya adalah wahyu dari Allah SWT, ia tetap mengkomunikasikannya dengan ananda Ismail, karena ini terkait dengan eksistensi dirinya. Hasil didikan dari keluarga yang baik menghasilkan generasi yang baik dan taat.

Panggilan ayah kepada anak harus menggunakan kalimat terpilih yang menunjukkan cinta kasih, yaa bunayya. "Fanzhur maa dzaa taraa", menunjukkan penghargaan terhadap pendapat dan akal budi dari Ismail. Dengan proses komunikasi yang demikian, akan terlahir penghormatan dan keakraban antara anak dengan orang tua. Dan hasilnya, sungguh luar biasa, Ismail justru meminta ayahnya untuk segera menunaikan perintah-Nya.Walau demikian, tidak selamanya kondisi harmonis terus terjaga dalam lingkup keluarga. Ujian muncul dari diri Ibunda, Siti Hajar.

Dalam Qashashul Anbiya diceritakan bahwa Siti hajar digoda oleh Iblis mengenai rencana Ibrahim menyembelih anaknya. Iblis menyentuh perasaan Siti Hajar sebagai ibu bagi isma'il dan istri dari Ibrahim. Sungguh tindakan di luar logika jika harus menyembelih anaknya sendiri setelah lama membiarkannya. Apakah tega sebagai seorang ibu membiarkan anaknya yang dengan susah payah di asuh kini harus disembelih bapaknya sendiri. Tetapi godaaan Iblis tidak mempan, malah Siti Hajar melempari Iblis dengan batu batu kerikil. Kemudian kelak peristiwa ini diabadikan dalam ritual haji (lempar jumrah). Siti Hajar adalah teladan ibu sukses yang memberikan pengasuhan secara baik, dan sukses menjaga harmoni dan tetap dalam ketaatan, menjadi pilar utama dalam dakwah dan tegaknya ajaran agama.
Nabi Ibrahim, setelah melakukan musyawarah, akhirnya melaksanakan perintah Allah SWT tersebut.

Di tempat tersebut pada tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah haji diperintahkan melempar batu dengan membaca: Bismillahi Allahu Akbar. Hal tersebut mengandung arti bahwa manusia harus melempar syaitan atau membuang sifat-sifat syaitaniyyah yang bersarang di dalam dirinya, dengan tetap mempertahankan sifat-sifat kemanusiaan dan ke-Tuhanan.

Pelajaran yang dipetik dari sini, komunikasi yang baik antar keluarga menjadi salah satu kiat sukses dalam kehidupan rumah tangga, dengan mengedepankan dialog dan musyawarah. Dalam proses kehidupan, termasuk dalam rumah tangga, tidak akan lepas dari masalah dan problematika. Ketabahan dan kesabaran Ibrahim dan Ismail dalam menghadapi cobaan dan musibah patut kita contoh dan kita teladani yang merupakan kesediaan dan keikhlasannya untuk mengorbankan apa saja dalam melaksanakan pengabdian bila pengorbanan itu dibutuh-kan. Ujian yang diberikan berfungsi untuk meninggikan derajat kita, jika kita mampu melewatinya
Di sisi yang lain, juga menjelaskan pola ideal relasi hubungan antaranggota keluarga, yang harus saling mendukung dan menjalankan tanggung jawabnya.

Orang tua punya tanggung jawab pengasuhan secara baik, berikhtiar untuk memberikan rizki yang halal, dan memberikan pendidikan yang baik, dengan cara yang baik juga. Figur ayah yang demokratis, memusyawarahkan berbagai hal yang terkait dengan urusan rumah tangga.

Seorang anak akan memiliki ketaatan kepada orang tua, karena didikan yang memanusiakan.

Sosok Ibu juga menjadi faktor penting membangun kesuksesan rumah tangga, dengan senantiasa menjalin komunikasi, serta tidak mudah terhasut oleh pihak ketiga. Tidak jarang, pertahanan diri dalam urusan integritas seseorang, semisal urusan bisnis atau pekerjaan kanto, jebol melalui istri. Hajar memberi keteladanan soal integritas itu.

Semoga kita bisa meneladani Ibrahim, Hajar, dan Ismail untuk membangun keluarga harmonis, tempat kondusif pengasuhan anak, penuh cinta dan kasih, sebagai pengantar mewujudkan bangsa yang baik dan beradab. (*)


Dr. HM. Asrorun Ni'am Sholeh
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads