"Jakarta tahun kemarin hewan kurban yang disembelih itu sekitar 40 ribu ekor, 10 ribu ekor sapi dan 30 ribu kambing. Tempat penyembelihannya gimana? Tempat penyembelihannya kan ada di masjid, musholla, jika ditata ada 2.000 titik. Itu di samping Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Ada sekolah, kantor, dan sebagainya," kata Djarot.
Hal itu disampaikan Djarot saat penutupan sekolah partai PDIP di Wisma Kinasih, Depok, Jawa Barat, Sabtu (10/9/2016). Djarot beralasan, 2 ribu titik yang tersebar di berbagai tempat ini menyebabkan faktor pengelolaan limbah menjadi sangat penting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekolah boleh tapi tempatnya khusus. Limbahnya dikelola khusus supaya tidak tambah korban. Kenapa? Karena di dalam budaya kita ada faktor gotong royong," jelasnya.
"Senang banget, setelah dipotong, ditimbang, dibagi-bagi pakai plastik. Inilah, kalo RPH kan enggak, itu kan sendiri," lanjut mantan Walikota Blitar ini.
Sementara apabila ingin menyembelih di permukiman, Djarot menyarankan agar dilakukan di tempat khusus seperti di lapangan dan limbahnya dikelola. Dia melarang penyembelihan di trotoar.
"Yang nggak boleh di trotoar. Darah berceceran kemana-mana, isi perutnya kemana-mana. Dicuci kadang-kadang di sungai, Astaghfirullah, jadi korban malah orang lain. Kalau sampai ada begitu, ke depan membangun RPH sementara saja seperti di RPH Al Azhar," kata Djarot. (rni/imk)










































