Bandara di Nias dan Simeulue Tidak Berfungsi Normal

Bandara di Nias dan Simeulue Tidak Berfungsi Normal

- detikNews
Selasa, 29 Mar 2005 18:04 WIB
Jakarta - Bandara di Pulau Nias dan Simeulue tidak dapat berfungsi normal karena landasan retak dan tower runtuh akibat gempa bumi yang melanda wilayah itu, Senin (28/3/2005) malam. Untuk menjangkau lokasi itu hanya dapat dilakukan dengan menggunakan kapal laut dan helikopter. Hal itu dikatakan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dalam konpers usai mengikuti sidang kabinet terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (29/3/2005). Dikatakan Tarto, pihaknya telah menyiapkan 4 heli yang terdiri 2 jenis Super Puma dan 2 jenis Bell. Jumlah itu akan ditambah dalam waktu dekat untuk memasok distribusi bahan makanan dan obat-obatan. "Kita juga hari ini mengirimkan 2 buah KRI yang membawa bekal makanan dan obat-obatan ke Nias, termasuk 1 KRI besok pagi yang membawa bahan makanan dan air minum," ujarnya. Selain itu, lanjut Tarto, Pesawat Hercules dari Jakarta yang membawa 1 batalyon tentara juga dikirim ke lokasi bencana untuk membuka RS lapangan, tadi pagi. Pasukan yang diberangkatkan juga diperkuat tim Depkes, termasuk di dalamnya personel yang bertugas memperbaiki sistem komunikasi sehingga situasi terakir di daerah gempa dapat dilaporkan. "Kita juga mengirimkan batalyon Zeni Konstruksi dan Batalyon 113 yang semula akan kembali ke home base karena telah selesai bertugas di NAD di perjalanan kita belokkan masuk Pulau Nias dan Simeulue guna memberikan bantuan tanggap darurat," katanya. Dikatakan Tarto, sebenarnya tugas para prajurit di NAD sudah selesai dan akan kembali ke home base untuk bertemu keluarganya. Namun karena terjadi gempa bumi, Panglima TNI meminta kerelaan mereka untuk dialihkan ke Pulau Simeulue dan Pulau Nias. Singapura dan AustraliaSingapura menawarkan bantuan 3 pesawat untuk membantu penanganan gempa di Indonesia. Satu dari tiga pesawat itu akan ditempatkan di Banda Aceh dan digunakan untuk membantu penanganan bencana di Pulau Semeulue. Sedangkan 2 lainnya yang berada di Sibolga digunakan sebagai sarana transportasi cepat untuk memberikan bantuan logistik di Pulau Nias dan Simeulue. Sementara Australia menawarkan bantuan kapal yang kini tengah berada di Singapura. Kapal itu dilengkapi fasilitas RS terapung yang berfungsi menampung korban luka akibat bencana gempa bumi. Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto memperkirakan jumlah korban luka lebih banyak dari korban meninggal dunia. Korban yang mengalami luka harus segera ditangani karena jika tidak kemungkinan tidak terselamatkan. "Oleh karena itu, di samping mengirimkan batalyon kesehatan lapangan, kita juga menerima tawaran Australia berupa kapal yang dilengkapi RS terapung untuk segera menuju Pulau Nias," ungkapnya. (rif/)


Berita Terkait