Pelabuhan Gunung Sitoli Tak Berfungsi, RS Relatif Sepi
Selasa, 29 Mar 2005 17:41 WIB
Jakarta - Gempa berkekuatan 8,2 Skala Richter (SR) juga mengakibatkan pelabuhan Gunung Sitoli, Kabupaten Nias tidak bisa didarati kapal laut besar. Sementara RSU di Pelabuhan Gunung Sitoli relatif sepi, karena sebagian dokter dan suter masih mengungsi. Informasi ini disampaikan Pastor Hans dari Keuskupan Sibolga, Sumatera Utara, saat dihubungi detikcom, Selasa (29/3/2005). Pastor Hans mendapatkan informasi ini dari para pastor yang berada di kota yang kini mirip kota mati itu. Akibat pelabuhan tidak bisa didarati, maka pengiriman bantuan untuk para pengungsi di Nias akan mengalami hambatan. "Dermaganya goyah, sehingga membuat kapal besar tidak bisa merapat. Kalau kapal-kapal kecil kemungkinan masih bisa," kata dia. Menurut Hans, pelabuhan laut sangat penting di Nias ini. Karena lewat jalur laut inilah, semua bantuan dalam kapasitas besar bisa dikirim. Sedangkan lewat udara, pengiriman bantuan akan sulit, karena bandara di Gunung Sitoli hanya bisa didarati pesawat kecil. Pengungsi Perlu Obat-obatan dan Makanan Hans menyampaikan bahwa bantuan yang paling penting saat ini untuk para pengungsi adalah makanan dan obat-obatan. "Terutama obat-obatan untuk luka. Karena banyak korban luka yang terkena reruntuhan bangunan," jelasnya. Evakuasi di Gunung Sitoli sendiri masih berlangsung. Sudah ratusan jenazah yang ditemukan. Sementara korban luka dibawa ke RSU Gunung Sitoli. Di Gunung Sitoli, hanya ada satu RS saja. "Informasi dari teman-teman di sana yang masih bisa saya hubungi, RS itu dalam keadaan relatif sepi. Karena para suster dan dokternya juga ikut mengungsi," ungkapnya. Sementara itu, informasi yang didapatkan Hans, kota Teluk Dalam, ibukota Nias Selatan juga mengalami kerusakan yang parah. "Evakuasi jenazah sudah bisa mengidentifikasi 32 jenazah," kata Hans.
(asy/)











































