"Kalau bicara Mardani mungkin bukan sosok, tapi kepada jaringan PKS yang memang kita harus akui selama dua Pilkada kemarin PKS punya captive market sendiri. Walaupun kecenderungan di survei suara PKS turun, tidak sama dengan tahun 2007 lalu," kata Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya kepada detikcom, Jumat (9/9/2016).
Namun demikian duet Sandi-Mardani ini punya banyak kelemahan. Pertama adalah manuver ini membuat koalisi kekeluargaan terpecah belah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelemahan keduanya adalah duet ini menjadi prematur secara keahlian. Karena dua-duanya tak punya pengalaman di bidang birokrasi.
"Katakanlah Sandiaga terpilih, dengan pengalaman yang minim di birokrat. Jadi sebaiknya memang memilih yang ada pengalaman di birokrat, termasuk juga melihat seluk beluk kekurangan pemerintahan Ahok," katanya.
Dari segi elektabilitas duet ini juga kurang kuat. Yunarto melihat elektabilitas Sandi tak sekuat Tri Rismaharini atau Yusril Ihza Mahendra yang lebih kuat untuk menjadi penantang Ahok.
"Sandi ini kan tidak memiliki branding sekuat Risma atau Yusril. Sandi hanya mendapatkan limpahan suara dari asal bukan Ahok. Karena dalam kampanyenya Sandi tidak punya antitesa seperti yang dimiliki seorang Yusril yang tegas melawan Ahok dengan advokasi. Sandi masih menjual persolan branding tapi tidak menjawab antitesa Ahok," katanya.
Lalu apakah duet Sandi-Mardani mampu mengalahkan Ahok di Pilgub DKI?
"Kalau yang dimajukan Mardani akan semakin sulit buat Sandi dalam kampanye. Apa yang jadi titik lemah sekarang apa yang akan diperbaiki dari birokrasi karena keduanya tidak menguasai," jawabnya diplomatis. (van/tor)











































