Mengenang Perjalanan KH Hasyim Asyari Saat Menimba Ilmu di Tanah Suci

Laporan dari Arab Saudi

Mengenang Perjalanan KH Hasyim Asyari Saat Menimba Ilmu di Tanah Suci

Rachmadin Ismail - detikNews
Jumat, 09 Sep 2016 14:36 WIB
Mengenang Perjalanan KH Hasyim Asyari Saat Menimba Ilmu di Tanah Suci
Foto: Rachmadin Ismail
Makkah, - Tokoh pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari pernah belajar cukup lama di Makkah. Salah satu tempatnya menuntut ilmu adalah di Madrasah Shawlatiyah, Makkah Al Mukarramah. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pun mengenangnya.

Di sela-sela tugasnya sebagai Amirul Haj, Menteri Lukman mendapat undangan khusus dari Pengurus Cabang Istimewa NU di Arab Saudi. Acara tersebut bertajuk Pertemuan XV Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) se-Dunia. Hadir ratusan anggota NU, para santri di Shawlatiyah, sampai para kiai dan pejabat Indonesia di Makkah, termasuk juga beberapa jemaah haji.

Di antara nama-nama yang cukup terkenal ada KH Miftahul Ahyar sebagai wakil rais am PBNU. Ada juga aktivis NU KH Ahmad Bagja. Tak lupa hadir, Dubes RI di Kerajaan Arab Saudi Agus Maftuh, Kepala Daker Makkah Arsyad Hidayat dan perwakilan dari pihak Madrasah Mudirul Am Madrasah Shawlatiyah Syekh Majid Masud Salim. Terlihat juga di lokasi, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang berada di Makkah juga untuk menunaikan ibadah haji.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para kiai itu bergiliran menyampaikan sambutan terkait dengan sepak terjang KH Hasyim Ansyari. Mulai dari sejarah Kiai Hasyim saat menimba ilmu di Madrasah Shawlatiyah sampai perjuangannya melawan penjajah saat masa perjuangan kemerdekaan dulu.

Syekh Majid menerangkan dalam pembukaannya, madrasah tersebut sudah berumur ratusan tahun. Menurut Syekh Madjid, banyak santri asal Indonesia yang belajar di Shawlatiyah. KH Hasyim Ansyari pernah belajar pada tahun 1304 H pada Syeikh Rahmatullah Khalil Al Hindi, pendiri Shawlatiyah. Sampai sekarang, madrasah tersebut masih diisi oleh santri-santri asal Indonesia.

"Kami berharap agar para santri di sini lulusannya bisa disejajarkan dengan S1," kata Syekh Majid menyampaikan harapannya kepada Menag Lukman.

Menag Lukman kemudian didaulat untuk memberikan sambutan. Menurutnya, momen ini bisa dijadikan untuk napak tilas tempat belajar KH Hasyim Ansyari. Baginya, Kiai Hasyim adalah tokoh multidimensi, banyak sisi yang bisa dikaji dari pendiri NU tersebut.

"Madrasah Shawlatiyah adalah tempat di mana beliau terlibat dan berkontribusi saat kembali ke Tanah Air dan mengembangkan pesantren sehingga seperti saat ini," kata Lukman.

KH Hasyim adalah tokoh yang memadukan sisi kemanusiaan lewat ibadah sosial dan ibadah personal. Kontribusi pemikirannya yang diperoleh saat menimba ilmu di Makkah terhadap bangsa dan perjuangan kemerdekaan menjadi sebuah barang mahal.

Bila ditarik dalam konteks saat ini, Lukman mengajak para ulama dan tokoh NU untuk selalu meneladani KH Hasyim. Di tengah era teknologi di mana informasi begitu deras merasuki setiap warga, perlu ada sekat yang memfiliter itu semua lewat ajaran agama.

"Mari kita jadikan NU yang mencerahkan," kata Lukman.

Sementara Wakil Rais 'Am KH Miftahul Akhyar berharap PCI NU Arab Saudi dapat melahirkan Kyai Hasyim baru, utamanya mereka yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di Madrasah Shawlatiyah. Dari situ diharapkan keramat NU tidak hanya untuk organisasinya, tapi juga jamaahnya.

"NU memang keramat bagi organisasinya, tapi bagi jamaahnya masih menjadi pertanyaan besar. Dari madrasah tempat belajar Mbah Hasyim ini, kita menginginkan terlahir KH Hasyim baru," tuturnya.

Sekilas Madrasah Shawlatiyah

Madrasah Shawlatiyah didirikan pada tahun 1290H. Artinya, usia madrasah saat ini adalah 147 Tahun. Madrasah ini didirikan oleh Syekh Muhammad Rahmatullah Al-Utsmani, keturunan Sahabat Utsman. Beliau adalah seorang mujahid yang selalu berjuang membela Islam dan Rasulullah. Beliau banyak melakukan diskusi dengan berbagai kalangan agamawan dan menulis buku dari hasil diskusinya itu. Karya beliau banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia, termasuk Indonesia.

Madrasah ini disebut Shawlatiyah karena didirikan atas biaya seorang perempuan dermawan yang bernama Shawlatun Nisa. Perempuan ini menginfakkan hartanya untuk membeli tanah dan membangun madrasah.

Madrasah ini awalnya berlokasi di dekat Masjidil Haram. Sekitar 130 tahun setelah beroperasi, madrasah ini digusur seiring adanya proyek perluasan Masjidil Haram. Sejak saat itu, madrasah ini pindah ke lokasi sekarang di wilayah Ka'kiyah.

Pembangunan madrasah di Ka'kiyah berlangsung pada tahun 1312H. Karena perang dunia pertama, pembangunan dihentikan, dan baru dilanjutkan setelah perang usai hingga selesai pada tahun 1343H. oleh Raja Abdul Aziz, Madrasah Shawlatiyah disebut sebagai Azharu Bilady (ibarat Universitas al Azhar negeri kami).

(mad/fjp)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini