Lulusan Pilot RI Khawatir Bawa Pesawat Kecil, Pilot Asing Mau Meski Tak Dibayar

Lulusan Pilot RI Khawatir Bawa Pesawat Kecil, Pilot Asing Mau Meski Tak Dibayar

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Kamis, 08 Sep 2016 13:06 WIB
Lulusan Pilot RI Khawatir Bawa Pesawat Kecil, Pilot Asing Mau Meski Tak Dibayar
Dokumentasi Foto: Putri Akmal/detikcom
Jakarta - Indonesia kekurangan 700 pilot per tahun. Penyebabnya, banyak lulusan sekolah pilot Indonesia yang ingin langsung membawa pesawat besar.

"Aspek keluarganya, keluarga khawatir kalau terbang dengan pesawat kecil di hutan, pedalaman Papua, takut, jadinya (bawa) pesawat yang besar. Padahal untuk membangun pengalaman terbang mereka harus terbang di pesawat kecil sehingga tingkat kesulitan dapat," kata Kepala Badan SDM Kemenhub WS Utomo.

Hal itu disampaikan Utomo usai acara pelantikan 2.116 perwira transportasi di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Tangerang, Banten, Kamis (8/9/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah itu kan kalau terbang di pesawat besar kan enak, pengalaman lebih paten menghadapi masalah sudah siap. Masalah itu (gaji) juga jelas," lanjutnya.

Syarat menjadi pilot yang akan menerbangkan pesawat terbang pun tak mudah. Pilot yang layak terbang adalah bila sudah mencapai 240 jam terbang.

"Mereka yang mau jadi pilot itu harus memantapkan dulu 240 jam terbang. Setelah itu tercapai, mereka lulus. Mereka pun di sini kan menerbangkan pesawat-pesawat kecil. Sebenarnya mereka juga tidak masalah bila menerbangkan pesawat kecil," ucap Utomo.

Kekurangan pilot di Indonesia, utamanya untuk menerbangkan pesawat-pesawat kecil di rute perintis, akhirnya diatasi dengan merekrut pilot asing. Utomo pun menjelaskan banyaknya pilot asing di Indonesia juga karena mereka tidak masalah dengan menerbangkan pesawat kecil. Pilot asing, lanjut Utomo, walau tidak dibayar bila mengendarai pesawat kecil yang dipentingkan itu adalah jam terbangnya.

"Mereka itu para pilot baru harus cari pengalaman di pesawat kecil. Yang paling menarik di Indonesia, kita punya pesawat kecil, yang jadi pilot itu asing. Karena mereka (menerbangkan pesawat) gratis pun mau. Yang penting bagi mereka itu jam terbangnya. Karena jam terbang nantinya bisa meningkatkan grade pilot asingnya," imbuhnya.

Sedangkan Menhub Budi Karya Sumadi menuturkan persoalan kekuarangan pilot ini memang dilematis. Dia mengimbau lulusan sekolah pilot meningkatkan kemampuannya secara bertahap, jangan langsung membawa pesawat besar.

"Dikatakan kurang ya kurang. Dikatakan lebih ya lebih. Oleh karena itu saya sampaikan, mengapa itu terjadi karena dibutuhkan jumlah pilot yang terverifikasi. Dan yang kedua, saya mengimbau kepada lulusan ini pertama kali tidak harus masuk ke pesawat jet. Lakukanlah profesinya melalui tahapan-tahapan. Misalnya lakukan penerbangan dengan ATR dulu sekian tahun. Sehingga benar-benar matang," jelas Menhub Budi di lokasi yang sama. (yds/nwk)


Berita Terkait