"Rohadi, siapa ya?" kata seorang warga di mulut gang balik bertanya saat ditanya apakah tahu alamat Rohadi.
![]() |
Di mulut gang itu terdapat sebuah warung makan yang hanya buka malam hari. Sedang di sisi lain, sebuah rumah besar. Dari mulut gang itu, tamu jalan kaki atau membawa sepeda motornya dengan pelan. Gang kecil itu cukup sempit berkelak-kelok dengan pemandangan baju-baju warga yang digantung di pagar depan.
![]() |
Setelah berjalan 300 meter di gang utama, tamu Rohadi harus masuk gang lagi yang lebih sempit dan tersembunyi dari gang utama. Rumah nomor 22 itu tersembunyi sekitar 7 meter dari gang utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rohadi tinggal di rumah ukuran 21 meter itu karena diterima bekerja sebagai sipir penjara di Rutan Salemba. Saat itu, ia datang dengan istri dan anak pertamanya. Sehari-hari, Rohadi harus berjalan kaki dan pergi ke kantor nebeng temannya yang membawa sepeda motor. Selain menjadi sipir, Rohadi juga dikenal jualan bakso/mie ayam di tempat kerjanya.
"Dia pulang pergi memakai baju sipir, nebeng temannya naik sepeda motor. Dia tidak punya kendaraan," tutur Miskun.
Hidup sederhana Rohadi perlahan mulai berubah saat ia diterima sebagai pegawai pengadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut). Dari yang dulunya tidak punya kendaraan, hingga mampu membeli sepeda motor.
"Saya kenal dia sudah lama, sejak tahun 90-an di PN Jakut. Dia saat itu masih jadi tukang antar surat panggilan sidang perdata," cerita pengacara Rohadi, Alamsyah Hanafiah.
Rumah Rohadi di Harapab Baru Regency, Bekasi |
Hidup Rohadi mulai menanjak dan memutuskan pindah rumah ke Harapan Baru Regency, Bekasi, kompleks yang tidak jauh dari rumah pertamanya itu. Rumah sederhana itu lalu dibangun dan ditingkat.
"Yang di sini tidak dijual. Sekarang ditempati keponakannya," ujar Miskun.
RS milik Rohadi di Indramayu (dok.detikcom) |
Sejak saat itu, hidup Rohadi berubah. Menurut pengacara Rohadi lainnya, Tonin Singarimbun, keuletan dalam bisnis yang membuat nasib Rohadi moncer yaitu jualan batik, jualan buku, jualan elektronik dan sebagainya. Salah satunya juga bisnis mobil sehingga Rohadi memiliki 17 kendaraan.
"Itu menjadi pendapatan di luar gaji," kata Tonin menjelaskan.
Bisnis Rohadi terus berkembang biak dengan basis usaha di kampung halamannya di Indramayu. Ia memugar rumah orang tuanya di Indramayu. Memasuki tahun 2010-an, Rohadi mulai membangun bisnis Rumah Sakit di Indramayu.
"Itu juga hasil utang. Ada juga rumah sakit di Karawang yang bangkrut lalu sebagian alat-alat kantornya dibeli seharga Rp 2,7 miliar," cerita Tonin soal awal pembangunan RS di Indramayu itu.
![]() |
Setelah RS siap diresmikan, KPK tiba-tiba menangkap Rohadi beberapa pekan sebelum peresmian. Rohadi ditangkap usai menerima uang Rp 250 juta dari pengacara Berthanatalia. Diduga untuk mempengaruhi putusan Saipul Jamil. Di sisi lain, KPK juga menemukan Rp 700 juta di mobil Rohadi.
Setelah itu, KPK berturut-turut menerapkan pasal gratifikasi dan terakhir pencucian uang. Untuk menjerat dengan pasal pencucian uang, KPK telah menggeledah rumah Rohadi dan menyita sebuah Toyota New Yaris. Terakhir, KPK juga menyita Pajero dan ambulans yang diduga hasil pencucian uang.
Di tahanan, Rohadi mengaku stres dan mencoba bunuh diri. Tapi aparat KPK sigap dan merujuk Rohadi ke psikiater dan dinyatakan stabil. Rohadi akhirnya kini duduk di kursi pesakitan untuk diadili dalam kasus suap Saipul Jamil. Dua sangkaan lainnya, grativikasi dan pencucian uang, telah menanti.
Tapi apakah hanya sampai di sini cerita Rohadi? (asp/tor)














































Rumah Rohadi di Harapab Baru Regency, Bekasi
RS milik Rohadi di Indramayu (dok.detikcom)