Bimbingan Ibadah dan Kesehatan dari Para Amirul Haj untuk Jemaah

Laporan dari Arab Saudi

Bimbingan Ibadah dan Kesehatan dari Para Amirul Haj untuk Jemaah

Rachmadin Ismail - detikNews
Rabu, 07 Sep 2016 16:26 WIB
Bimbingan Ibadah dan Kesehatan dari Para Amirul Haj untuk Jemaah
Foto: Rachmadin Ismail
Makkah - Hari kedua di Makkah, Amirul Haj langsung melaksanakan tugas dan perannya untuk memberikan tausiah dan pembinaan manasik kepada jemaah haji Indonesia. Dua naib (wakil) dan enam anggota Amirul Haj berbagi untuk memberikan bimbingan di sejumlah lokasi.

KH Miftahul Akhyar dan KH Marpuji Ali selaku naib melakukan visitasi di Hotel Nasamat Al Khair di wilayah Mahbas Jin (101). KH Hasanuddin AF, KH Muhammad Siddik, dan Anung Sugihantono di Hotel Durat Al Aseel Modern di wilayah Mahbas Jin (305), sedangkan KH Ahmad Bagja dan KH Masyhurul Khamis memberikan tausiah di Hotel Sakab Al Barakah yang berada di wilayah Aziziah (407). Selain jemaah haji, hadir juga dalam setiap pembinaan, tim konsultan bimbingan ibadah haji PPIH Arab Saudi.

Dalam nasihatnya, KH Miftahul Ahyar berpesan tentang hikmah haji. Menurutnya, wukuf bukan sekadar datang, duduk, dan diam di Arafah, tetapi merupakan proses perenungan diri untuk mengetahui hakikat siapa diri kita sesungguhnya. Untuk itu, ketulusan dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah haji menjadi faktor penting. Karenanya, segala bentuk identitas yang menjadi pembeda satu dengan yang lain harus sudah dilepaskan pada saat niat berihram pada miqat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Usai haji, harus ada perubahan yang signifikan dari yang kurang baik menjadi lebih baik lagi," pesannya.

Sementara KH Marpuji Ali, menekankan pentingnya kerjasama antara ketua rombongan dan regu dalam menjalankan prosesi haji. Selain itu, jamaah diminta untuk mematuhi seluruh ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah agar pelaksanaan ibadah haji berjalan baik dan lancar.

Menurut Kyai Marpuji, ketua rombongan dan ketua regu adalah pemimpin yang mempunyai tugas mulia membantu kesuksesan dalam pelaksanaan ibadah haji. Karena itu, mereka harus amanah dan ikhlas dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin pada kelompok kecil sebelum memimpin masyarakat yang lebih besar.

Di tempat yang berbeda, KH Hasanuddin AF berpesan agar jamaah haji melaksanakan rukun Islam sesuai dengan aturan yang ada, tidak semaunya sendiri. Menurutnya, perbedaan persepsi dan cara dalam pelaksanaan haji, tidak perlu dipermasalahkan, apakah mau melaksanakan haji tamattu', qiran, atau ifrad.

KH Muhammad Siddik berkisah tentang pengalaman berhaji pada zaman dulu dengan kondisi sekarang yang sangat berbeda. Menurutnya, fasilitas berhaji zaman dahulu sangat terbatas. Hal itu berbeda dengan kondisi sekarang. Penyelenggaraan ibadah haji sudah dilengkapi berbagai fasilitas yang jauh lebih baik. Hal ini mestinya akan lebih dapat mendukung pelaksanaan ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya. Oleh karena itu, para jamaah agar mensyukuri fasilitas yang ada ini dengan lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah haji dan ibadah-ibadah lainnya.

Di wilayah Aziziah, KH Ahmad Bagja memberikan pesan tentang pentingnya rekonstruksi niat untuk membersihkan hati dengan memperbanyak berzikir. Rekonstruksi ini penting, lanjut Bagja, agar pelaksanaan ibadah dapat diresapi dengan baik.

Menurut Kyai Bagja, ibadah haji selain memperhatikan faktor-faktor jasmaniah, juga sangat mementingkan faktor rohani (hati). Kehadiran hati dimulai pada saat niat berihram sampai dengan seluruh rangkaian kegiatan ibadah haji, bahkan sampai pulang ke Tanah Air.

Senada dengan Kyai Bagja, KH Masyhurul Khamis mengimbau jemaah untuk memperbanyak istighfar, memohon ampunan kepada Allah SWT. Harapannya, pada saat wukuf di Arafah, mabit di muzdalifah dan Mina, serta pelaksanaan melontar jumrah, kondisi jemaah bersih, mendapat ampunan dari Allah, dan memperoleh predikat haji mabrur.

Sementara Anung Sugihantono lebih menekankan pada persoalan kesehatan. Dia berpesan agar jamaah haji memperhatikan faktor kesehatan diri, dan yang paling tahu tentang kondisi kesehatan diri adalah individu masing-masing. Kondisi fisik setiap jemaah berbeda-beda sehingga menurut Anung perlakuannya pun berbeda.

"Setiap jamaah agar mengenal dengan baik dokter yang ditugaskan di kloter masing-masing agar mudah berkonsultasi dan meminta pertolongan pada saat-saat sangat dibutuhkan," pesannya.

Selain itu, Anung mengimbau jamaah untuk menggunakan alas kaki yang berupa slop atau sejenisnya saat pelaksanaan ibadah Armina, dan diusahakan tidak menggunakan sandal jepit. Menurutnya, sandal jepit lebih tepat digunakan untuk perjalanan jarak pendek, bukan untuk jarak jauh, karena itu justru bisa berpotensi mengganggu kesehatan.

"Bagi yang sudah terbiasa menggunakan sandal jepit, diimbau untuk menggunakan kaos kaki bagi kaum ibu dan menggunakan plester atau pelindung jari-jari kaki," ujarnya.

Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Muhajirin Yanis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya karena anggota Amirul Haj berkenan memberikan bimbingan dan motivasi kepada jemaah sehingga para jamaah semakin yakin dan semangat untuk melaksanakan puncak dari ibadah haji.

Sementara itu, Sekretaris Amirul Haj Mahsusi mengatakan bahwa pelaksanaan visitasi pemantapan bimbingan ibadah adalah bagian dari program dan tugas Amirul Haj jadwal kegiatannya sudah ditetapkan sampai dengan sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah. Tim Amirul Haj dibagi beberapa kelompok untuk melakukan pemantapan bimbingan ibadah, memberikan motivasi, serta penguatan pemahaman manasik dan persiapan Armina kepada seluruh jamaah.

"Kami berharap dengan visitasi yang dilakukan oleh tim amirul haj yang dalam hal ini adalah para kyai, akan memberikan dampak dan pengaruh yang besar bagi jemaah haji sehingga mereka dapat melaksanakan ibadah dengan baik dan mencapai haji mabrur," ujarnya. (mad/fjp)


Berita Terkait