2 Siswa SMA Banyuwangi Olah Limbah Tahu Pakai Biji Kelor dan Kulit Pisang

Muda dan Menginspirasi

2 Siswa SMA Banyuwangi Olah Limbah Tahu Pakai Biji Kelor dan Kulit Pisang

Aditya Mardiastuti - detikNews
Selasa, 06 Sep 2016 16:46 WIB
2 Siswa SMA Banyuwangi Olah Limbah Tahu Pakai Biji Kelor dan Kulit Pisang
Alif Alfian Surur dan M Yogie Hendrawan (Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom)
Banyuwangi - Industri tahu menjadi salah satu penyumbang limbah yang cukup besar di daerah kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Hal ini memantik dua siswa SMAN 1 Purwoharjo berkreasi dengan serbuk dari bahan alam untuk menjernihkan lingkungan.

Dua siswa itu bernama Alif Alfian Surur dan M Yogie Hendrawan. Mereka mengolah biji kelor (Moringa oliefera) dan kulit pisang kepok (Musa acuminata balbisiana colla) menjadi bubuk untuk menjernihkan air limbah tahu.

"Saudara saya produsen tahu di kecamatan Srono. Waktu main kesana banyak tetangganya bilang limbahnya bau. Dari literatur juga ternyata industri tahu merupakan limbah yang cukup kompleks pencemaran di lingkungan," ujar Alif Alfian di SMAN 1 Purwoharjo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Selasa (6/9/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Foto: Aditya MT/detikcom

Alif menjelaskan dalam studi literaturnya biji kelor memang sudah dikenal sebagai penetral limbah. Penambahan kulit pisang kepok karena mempercepat proses penjernihan air limbah tahu itu sendiri.

"Kulit pisang kepok punya kemampuan mengabsorbsi paling baik karena mengandung asam karboksilat yang paling tinggi sementara biji kelor menetralisir partikel lumpur yang ada di limbah tahu," kata Yogi.

Keduanya kemudian mengekstrak biji kelor dan kulit pisang kepok menjadi serbuk dengan metode koagulasi flokulasi. Setelah itu serbuk dilarutkan ke dalam air limbah tahu dan dibiarkan mengendap selama kurang lebih empat jam.

"Untuk hasil terbaik komposisinya satu gram serbuk biji kelor dan kulit pisang kepok dengan satu liter air limbah tahu. Setelah dibiarkan sekitar empat jam limbahnya akan mengendap dan airnya jernih, tidak berbau dan aman untuk dibuang ke sungai," beber Yogi.

Yogi menegaskan penelitian ini bertujuan untuk mengurangi pencemaran sungai karena limbah tahu dan mengurangi bau. Meski air hasil filter tersebut jernih dia tidak menyarankan air itu untuk diminum karena belum ada penelitian lanjutan.

"Sasaran kami bukan air minum tapi air limbahnya bisa diminimalisir," tukasnya.

Foto: Aditya MT/detikcom

Dua siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler Karya Tulis Ilmiah menyebut temuannya menjadi pilihan murah untuk mengolah limbah. Untuk mengolah limbah mereka juga memanfaatkan sisa kulit pisang yang tidak terpakai.

"Kulit pisang banyak kita temukan di pedagang pisang goreng. Tumpukan kulitnya hanya jadi sampah, limbah yang tidak dimanfaatkan dan biji kelor mudah dijumpai di sini," tambah Yogi.

Penelitian ini pun diikutsertakan dalam lomba karya tulis ilmiah di Universitas Indonesia Program Studi Ilmu Lingkungan dalam rangka Homecoming day 35 tahun untuk pelajar SMP dan SMA. Hasilnya mereka mendapatkan dua penghargaan sebagai pameran terbaik dan poster terbaik.

"Penelitian ini memantik kami lebih peka terhadap permasalahan lingkungan. Ke depan kami akan coba memanfaatkan endapan tahu untuk penelitian lanjutannya," tukas Alif. (ams/trw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads