Refly melihat hubungan antara Golkar dan Jokowi saling menguntungkan atau win-win solution. Jokowi memerlukan kepastian maju Pilpres 2019, sementara Golkar memerlukan tokoh untuk dijadikan ikon.
"Tidak ada jaminan PDIP mencalonkan Jokowi sementara dengan Golkar sudah 90 persen dan Golkar adalah parpol terbesar kedua dan Jokowi nyaman dengan kendaraan besar. Bagi Golkar dia membutuhkan kampanye di awal sehingga kemudian Jokowi bisa menjadi Ikon," kata Refly kepada wartawan, Selasa (6/9/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Justru menurut saya langkah Golkar ini membuat PDIP jadi ketar-ketir. Karena nanti Jokowi yang semula jadi ikonnya jadi ikon Golkar karena ini Pemilu serentak," kata Refly.
"Golkar bisa memetik keuntungan sepanjang Jokowi tetap populer dan punya citra positif mendekati Pemilu 2019," imbuhnya.
Refly yakin Jokowi tak akan terganggu lagi dengan isu Pilpres 2019. Apalagi tiket maju Pilpres 2019 sudah jelas di tangan.
"Loh sekarang pertanyaannya apakah Jokowi terganggu? menurut saya tidak. Yang penting tiket dari Golkar sudah dia dapatkan dan itu hasil Rapimnas. Jadi perkara kemudian Golkar menjual namanya itu kan namanya dia mau jualan menarik pemilih," pungkasnya.
(van/trw)











































